Surat Tinta Cokelat

“Fred, cepetan. Udah jam setengah tujuh nih. Elo nggak tahu…” kata-kata Feri terhenti ketika kakaknya, Ferdi; remaja berkulit cokelat muncul dari pintu rumah.
“Iya-iya. Eh, kuncinya mana?” Ferdi dengan muka tanpa dosa.
“Itukan di meja elo. Ambil sana!” sang adik sedikit geram dengan kakaknya yang ngaret.
“Oke. Tunggu!” Ferdi segera berlari untuk mengambil kunci motornya.
“Mau coba nyetir?” Ferdi menawarkan kuncinya pada adiknya.
“Gila lo. Guekan nggak punya SIM. Lo mau gue ditilang? Udah ah, jangan cari masalah baru. Cepet berangkat!” Feri memberikan helm pada Ferdi.
“Mari.”
Setibanya di SMA Bakti Dharma, Dua kakak beradik ini adu lari menuju kelas yang sama, XI IPS 1. Ferdi dan Feri selalu memiliki kelas yang sama sejak mereka mengenakan seragam putih merah.
“Ah, lo kalah lagi sama gue,” Feri bangga telah masuk kedalam kelas lebih cepat dari Ferdi.
“Tenang saja. Sebagai kakak aku membiarkan adikku bahagia,” Ferdi dengan nada orang bijak.
“Sudahlah, bilang aja nggak mau dibilang kalah. Ribet amat sih,” Feri dengan nada meremehkan.
“Tapi, sekarang siapa yang menang?” Ferdi serius.
“Menang? Menang apa?” Feri tak mengerti.
“Kamu sudah menyelesaikan PR Sosiologi yang harus menulis paper 5 halaman folio?” Ferdi berimprovisasi.
“Argh… kenapa lo nggak ngingetin dirumah?”
“Habis kamu tidurnya kecepetan. Aku mau bangunin nggak enak. Ya udah, selamat bekerja,” Ferdi dengan nada kemenangan.
“Lo udah kan, Fred?”
Ferdi mengangguk.
“Bantuin gue dong..” Feri memelas.
= = =
Sinar matahari yang menyilaukan mata menunjukan hari yang cerah. Ferdi berjalan melalui selasar SMA Bakti Dharma yang merupakan sekolah dengan arsitektur Eropa. Namun langkahnya terhenti didepan taman sekolah ketika matanya menangkap sesosok yang tak asing baginya. Rambut hitam panjang terurai dengan kulit putih khas Sunda, ialah Tyas, teman sekelasnya di XI IPS 1. Ferdi pun mendekati Tyas dan duduk disampingnya.
“Kamu kenapa, Tyas?” tanya Ferdi.
Tyas melirik sesaat kearahnya dan kembali menatap ikan dalam kolam.
“Hey, hey. Jangan bengong atuh. Mau kesambet…” Ferdi menghentikan celotehannya ketika tidak melihat reaksi apapun dari Tyas.
Ferdi pun mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya, “mau cokelat?”
Tyas pun memalingkan wajahnya pada Ferdi dan menerima cokelat batangan tersebut, “makasih”.
Tyas pun segera memakan cokelat batangan tersebut. Mereka pun saling berbincang dan bercanda satu sama lain. Namun hal tersebut diganggu oleh jeritan ponsel dari tas Ferdi.
“Ah, sorry. Aku harus pulang. Feri udah nunggu didepan.” Ferdi pun meninggalkan Tyas yang kini telah merubah suasana hatinya menjadi lebih cerah.
Sesampainya di tempat parkir, Feri, remaja berkulit putih melambaikan tangannya untuk Ferdi.
“Lo kemana aja sih. Dari tadi ditelepon nggak diangkat-angkat.” Feri, meluapkan kekesalannya.
“Iya, Sorry deh. Tadi aku ada sedikit urusan.”
“Fred, lo aja deh yang nyetir,” Feri memanggil kakaknya dengan nama favoritnya, ‘Fred’. Selain disenangi oleh Ferdi, Ini bisa membedakan orang yang ingin memanggil salah satu diantara ‘Cokelat Susu Bersaudara’, julukan untuk kedua saudara berjarak 10 menit yang berbeda warna kulit namun memiliki garis wajah yang sama. ‘Fred’ untuk Ferdi dan ‘Fer’ untuk Feri. Maka, takkan ada kasus panggilan ‘Fer’ yang ambigu bagi keduanya.
“Ya udah, emang kamu mau ditilang lagi? Ayo kita pulang,” Ferdi lalu memacu motornya dengan Feri yang membonceng dibelakang.
Mereka menembus jalanan kota yang kian hari kian pengap oleh polusi. Mungkin motor yang dikendarai Ferdi pun berpartisipasi dalam peningkatan polusi itu. Namun hingga kini belum ada solusi pasti mengenai polusi yang tidak menyenangkan itu.
= = =
Keesokan harinya, Ferdi menemukan kertas berwarna cokelat muda diatas mejanya.
HAI COKELAT. MAKIN MANIS AJA NIH.
Itulah yang tertulis pada kertas tersebut. Tulisan pada kertas itu nampaknya menggunakan spidol bertinta cokelat. Ferdi lalu memasukkan kertas tersebut kedalam tas sebelum Feri, adiknya sekaligus teman sebangkunya masuk kedalam kelas. Ia tak ingin memikirkan terlalu jauh mengenai maksud si penulis surat.
Saat jam istirahat, Ferdi maju kedepan kelas untuk meminta teman-teman sekelasnya duduk ditempat.
“Hey, beberapa minggu kedepan disekolah kita akan diadakan festival musik antar sekolah. Setiap kelas XI IPS diundang oleh panitia untuk membuka stand bazar untuk jualan pada saat acara. Ada yang punya usul untuk bazar kelas kita?” Ferdi mengangkat tangan kanannya sebagai tanda yang lain boleh bicara.
“Fred, gimana kalau kita buka stand poster penyanyi-penyanyi terkenal?” Tika memberi usul.
“Jangan, poster bisa dibeli dimana pun, nggak usah di acara festival musik. Di acara kayak gitu pasti banya orang laper. Gimana kalau kita jualan makanan pengganjal perut. Laku keras tuh kayaknya,” Hedi memberikan saran.
“Eh, bener juga tuh usul si Hedi. Tapi makanan yang dijual apa aja?” Gilang membela Hedi.
“Enak aja. Emang semua udah sepakat jual makanan? Poster penyanyi gimana nasibnya?,” Tika protes.
Diskusi yang Ferdi perkirakan hanya membutuhkan waktu lima menit ternyata belum berakhir hingga istirahat hampir berakhir.
“Udah, begini saja. Siapa yang setuju jual makanan?” Ferdi menghentikan debat kusir yang terjadi dalam kelas.
27 tangan kanan terangkat. Yang tidak mengangkat tangan hanya Tika dan Ferdi selaku pemimpin rapat.
‘Hah, bukannya kelas ini berjumlah 30 siswa?’ Ferdi heran karena hanya ada 29 orang dalam kelas. “Tika, gimana kalau posternya…”
“Nggak, poster harus tetep ada,” Tika keukeuh.
“Hm…” Ferdi berpikir sejenak. “Ok, poster tetap ada. Yang lain urus makanan, Tika urus poster.Setuju?”
“SETUJU,” penghuni seisi kelas sepakat.
Tak lama kemudian, Tyas masuk kedalam kelas tanpa mengucapkan salam dan duduk dikursinya.
“Eh, Tyas. Dari mana lo? Kok nggak ikutan rapat kelas?” Yadi bertanya.
“Suka-suka aku dong,” Tyas cuek dan membuka buku novel yang telah berhari-hari ia bawa kedalam kelas.
“Kalau begitu rapat ditutup. Yang mau jajan cepet keluar sebelum bel masuk.,” komando Ferdi membuat siswa XI IPS 1 berhamburan keluar, kecuali Tyas.
Hari berikutnya, kertas yang mirip seperti kemarin dengan isi berbeda tergeletak diatas mejanya.
COKELAT, JANGAN SOMBONG DONG.
Ferdi kembali memasukkan kertas tersebut kedalam tas. Ferdi tidak ambil pusing mengenai pesan-pesan tersebut. Walau demikian ia mulai penasaran dengan tokoh penulis pesan tersebut. Ia mengamati raut wajah teman-teman sekelasnya yang kini telah ada di dalam kelas, “mungkin salah satu dari mereka yang menulis,” batinnya.
Feri berada disampingnya, tak mungkin adiknya menulis ini. Lagipula Feri selalu datang dan pulang bersama Ferdi. Maka tak mungkin Feri orangnya, Ferdi yakin.
Dede yang duduk dibelakangnya juga tak mungkin, ia baru datang saat Ferdi baru duduk. Tak mungkin Dede yang menulis, ia rasa.
Tyas memang telah ada didalam kelas sejak ‘Cokelat Susu Bersaudara’ ini datang. Tetapi Tyas nampaknya sedang hanyut dalam dunia novel yang kini tengah dibacanya. Tak mungin Tyas meninggalkan novelnya demi menulis kata-kata ini, batin Ferdi.
Cecep, nggak mungkin. Ia baru masuk saat Ferdi memalingkan perhatian dari Tyas.
Akhirnya Ferdi menyerah. Ia kembali hanyut pada buku Matematika. Mungkin saja ada kuis dadakan, pikirnya.
“Fred, cabut keluar yuk. Bosen didalem terus?” Feri mengajaknya.
“Bolos?” Ferdi tetap pada bukunya.
“Nggak lah. Gila bolos. Ke depan kelas sekalian cari udara seger. Lo ini pikirannya kok malah ke bolos sih?” terang Feri.
“Iya deh,” setidaknya bisa menyegarkan pikiranku dari masalah pesan dalam kertas, tambah Ferdi.
Kertas ketiga muncul pada pagi berikutnya. Ferdi membuka lipatan kertas tersebut.
KAKAKNYA COKELAT, ADIKNYA SUSU. DICAMPUR JADI ENAK YA!!
“Ah, kini surat tersebut juga menyinggung Feri. Kali ini sudah cukup merisaukan. Siapa pula orang yang mau menulis surat tiga hari berturut-turut tanpa tujuan yang jelas?” Ferdi membatin.
Ferdi memasukkan kertas tersebut dengan tergesa-gesa hingga menjatuhkan tas punggungnya dari meja.
“Fred, lo kenapa sih sampe ngejatuhin tas. Punya masalah?” Feri sedikit kaget.
“Nggak, cuma kesenggol kok. Bener deh, bener. Percaya sama aku,” Ferdi berusaha membuat adiknya yakin bahwa kakaknya baik-baik saja.
Feritampaknya tidak ambil pusing atas kejadian itu. Tetapi Ferdi benar-benar ambil pusing atas teror yang menyerang. Ia kembali mengamati teman-teman dalam kelasnya. Kini suasana kelas sudah sedikit gaduh dengan tingkat kedatangan siswa dalam kelas yang hampir seratus persen. Feri pun ikut-ikut membuat suasana semakin meriah.
“Ah, adikku. Walau kau 10 menit lebih muda kau lebih gila dariku,” Ferdi membatin.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk berdering.
Kringgg…
Siswa-siswa yang tadinya mengacau kembali ke bangkunya menjadi anak yang duduk manis dikursinya masing-masing.
“Baik anak-anak. Pagi ini kita akan ulangan matematika!” pernyataan Bu Gina membuat kelas gaduh tak terima.
“Bu, tapi kita belum bel…” kalimat Tika, si cewek tomboy terputus ketika melihat tatapan Bu Gina yang tegas.
“Tidak ada alasan untuk menolak. Tutup buku kalian dan kita mulai… Sekarang.”
Siswa XI IPS 1 pun pasrah menerima takdir.
Setelah seluruh siswa telah menyelesaikan pekerjaannya, hasil pekerjaan tiap siswa ditukar oleh temannya untuk diperiksa.
“Ibu merasa kecewa dengan kalian. Ibu kan telah mewanti-wanti dari dulu kalau kalian itu harus belajar walau ibu tidak memberitakan ulangan pada kalian,” Bu Gina meluapkan kekecewaannya. “Tapi ibu juga punya lima siswa dengan nilai yang membanggakan.”
Suasana kelas kini hening menanti nama-nama siswa yang ‘membanggakan’ Bu Gina.
“Yang pertama nilai 100, didapat oleh…. Fer…” Cokelat Susu bersaudara telah yakin salah satu dari mereka yang mendapatkannya. “Feri Sunandar.”
“Alhamdulillah…” Feri mengucapkan syukur.
“Yang kedua nilai 95, Ferdi Sunandar.”
“Yah, Alhamdulillah masih diatas 90,” Ferdi sedikit bersyukur walau kecewa dikalahkan adiknya sendiri.
“Gimana kak..” Feri nakal.
“Sudahlah, cuma beda lima. Nanti kukalahkan kamu,” Ferdi dengan nada mengancam.
= = =
Sepulangnya dari sekolah, Feri masih membanggakan dirinya yang berhasil mengalahkan kakaknya dalam ulangan matematika. Tetapi Ferdi tidak terlalu mengubrisnya. Setelah meninggalkan Feri yang duduk malas didepan televisi, Ferdi masuk ke kamarnya dan bercermin. Ferdi meraba-raba mukanya. Aku tampan, bisik hati Ferdi. Rambut bergelombang, mata cokelat sipit, hidung sedikit mancung, dan dagu sedikit lancip. Tetapi Ferdi juga mengakui, walau memiliki garis wajah yang sama, Feri lebih putih dari dirinya. Ia teringat saat SD mereka mendapat julukan ‘Cokelat Susu Bersaudara’. Ah… Surat itu menyinggung dua bersaudara… Cokelat itu Ferdi, Susu itu Feri.
“Tapi aku tetep ganteng kok. Buktinya di SMP aku dikejar banyak cewek,” puji Ferdi pada dirinya sendiri.
“Putihkan kulitmu dengan ShineSkin,” iklan dari televisi ruang tengah itu memberi sugesti padaFerdi.
Ferdi segera mengambil kunci motornya dan meninggalkan kamarnya. Ia kini berencana untuk membeli ShineSkin di KomplitMART yang cukup jauh dari rumahnya. “Nggak bakal ketahuan Feri kalo aku belinya jauh dari rumah,” batinnya.
“Mau kemana, Fred?” tanya Feri yang tengah duduk malas diruang tengah.
“Ah, mau ke… depan. Udah ah, aku mau cabut dulu,” Ferdi pun meninggalkan saudaranya dengan tergesa-gesa.
“Kenapa dari tadi pagi dia selalu bertingkah aneh?” tanya Feri pada dirinya.
= = =
KomplitMART di siang hari ini tidak terlalu padat seperti akhir pekan. Ferdi dengan leluasa memasuki salah satu supermarket terkemuka di kotanya itu. Ia juga mengamati keadaan sekitar supermarket. Ia ingin memastikan aksinya kali ini aman dan bebas gangguan.
Setelah masuk lebih dalam di KomplitMART,Ferdi langsung mengambil keranjang, menyimpan dompet didalam keranjang, lalu menuju lorong ‘Perawatan Tubuh’ melewati deretan televisi-televisi berlayar lebar. Iklan yang ditampilkan oleh televisi-televisi ini kini menampilkan ShineSkin sebagai produk kecantikan andalan.Akibat iklan tersebut, matanya tersugesti untuk hanya mencari satu, ShineSkin with Bengkoang. Tetapi sebagai cowok, ia tentu malu bila isi keranjangnya hanya pemutih kulit yang diracik untuk wanita. Maka ia pun berinisiatif untuk memasukkan makanan ringan ke dalam keranjangnya.
Setelah dari lorong ‘Perawatan Tubuh’ dengan ShineSkin didalam keranjangnya, Ferdi segera menuju lorong ‘Makanan Ringan’. Setelah memasukkan beberapa makanan ringan, tanpa disengaja ia terpeleset dan menumpahkan semua isi keranjangnya. Namun entah mengapa ‘ShineSkin’-nya kini meluncur hingga ujung lorong dan berhenti dibawah kaki seorang remaja perempuan yang mengenakan seragam SMA Bakti Dharma, seperti yang Ferdi kenakan. Ia perhatikan sekilas orang tersebut, ternyata cewek itu Tika, cewek tomboy di kelasnya.
“Aduh, kalau dia tahu aku beli gituan bisa jadi olok-olokan baru buat aku,” batinnya. Demi menjaga harga diri, Ferdi langsung meninggalkan TKP dan mengambil keranjang baru dan barang-barang baru yang sama seperti keranjang sebelumnya.
Setelah menyelesaikan misi-misinya, Ferdi segera datang ke kasir dengan rasa bangga telah hampir menuju misi utama, mempermak kulitnya supaya terlihat lebih putih dari kondisi yang sekarang.
Selama penjaga kasir memasukkan barang-barangnya kedalam kantong, ia melihat-lihat lagi keadaan sekitar. “Jangan sampai Tika melihatku,” batinnya.
“Uangnya mana?” tanya penjaga kasir.
“Oh ya. Maaf Mbak, tung… ah…” Ferdi tidak menemukan dompetnya disaku celananya. “AH… DOMPET SAYA HILANG.”
“Dompet hilang? Kok bisa sih?” Ferdi panik. Ia teringat bahwa dompetnya ada didalam keranjang yang telah tumpah tadi.
Dengan tergesa-gesa, Ferdi kembali ke lorong ‘Perawatan Tubuh’. Namun ia tidak menemukan dompetnya. Ia juga mendatangi pusat informasi.
“Dompet? Kami tidak mendapat laporan orang yang menemukan dompet…” Ferdi pun meninggalkan tempat itu sebelum informan menyelesaikan kalimatnya.
Dengan hati yang nelangsa, Ferdi mengendarai motornya dengan sinar matahari yang rasanya membakar kulitnya yang… semakin hitam, pikirnya. Tak jauh dari KomplitMART, mesin motornya tiba-tiba mati.
“Astagfirullah, bensinnya habis,” pekiknya setelah melihat indikator motornya.
Hari ini serasa menyedihkan bagi Ferdi. Dompet hilang, bensin habis, penderitaan yang menimpanya serasa ingin menyiksa hidupnya. Meminta Feriuntuk datang menolongnya adalah tindakan yang telah Ferdi hapus sejak awal. Dengan hati yang menangis, Ferdi mendorong motornya ke SPBU dengan harapan petugas mau memberikan bensinnya dan berjanji akan kembali untuk membayar bensin, walau kemungkinannya sangat tipis. Ketika ia tiba di suatu gang, ia melihat Tika berjalan masuk kedalam gang. Ferdi pun mengikuti Tika dari kejauhan, “mungkin saja dompetku ada di Tika,” batinnya memberi harapan cerah.
Di suatu belokan, Ferdi mengitip dari balik dinding rumah warga. Ia melihat kini Tika sedang bertengkar dengan pemuda tanggung yang mangkal di Pos kamling. Kata-kata kotor terlontar dari mulut-mulut mereka. Tanpa disengaja, Ferdi menemukan dompetnya tergeletak tak jauh dari kakinya. Ia pun segera memungut dompetnya. Ingin rasanya ia mengucapkan sesuatu pada Tika seperti ‘terima kasih’. Namun hatinya tak sampai bila harus merusak ‘kesenangan’ Tika.
Setelah Tika menyelesaikan ‘kesenangannya’, Tika segera pulang ke rumahnya yang terletak didalam gang itu. Setibanya didalam kamar, ia merogok sakunya.
“Lho, dompet tadi mana?” Tika tidak menemukan dompet yang ia pungut di KomplitMART tadi.
“Eh, ada foto!” Ia pun mengamati foto itu baik-baik. Ia lalu membawa foto tersebut ke tempat yang lebih terang.
“Kayaknya aku nggak asing sama muka ini. Putih dan… ganteng,” Tika tersenyum.
= = =
Setelah mendapatkan dompetnya kembali, Ferdisegera mengisi motornya dengan bensin dan kembali ke KomplitMART tadi untuk membeli barang yang sama seperti yang sempat ia tinggalkan sebelumnya. Kali ini ia juga mengambil brosur ‘pemutihan kulit dengan ShineSkin’ dari ujung lorong ‘Perawatan Tubuh’.
Setibanya dirumah, Ferdi langsung disambut oleh adiknya.
“Hey, dari mana? Lama betul kedepannya,” Feri menyambut kedatangan Ferdi di ruang tengah sambil duduk malas didepan televisi.
“Oh, tadi habis dari… kekamar dulu ya,” Ferdi pun lansung berlari menuju kamarnya.
“Hm… bagusnya diapain nih bocah biar nggak aneh?” Feri sedikit curiga kakaknya menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Malam harinya, keluarga yang dibangun oleh suami-istri yang memiliki perbedaan latar belakang budaya ini makan malam bersama didalam rumahnya.
“Bagaimana dengan sekolah kalian?” Pak Hendry, bapak dari Ferdi dan Feri membuka pembicaraan sesudah makan malam.
Sekilas, garis wajah Pak Hendry mirip dengan kedua anaknya. Namun warna kulit Pak Hendry yang keturunan Indo turun pada Feri. Sedangkan Ferdi mungkin mendapatkan kulit cokelat manisnya dari gen ibunya yang merupakan asli pribumi.
“Pak, Ferdi dari tadi pagi kelakuannya aneh deh…” Feri sambil menunjuk Ferdi dengan telunjuknya.
“Lho…?” Ferdi sedikit heran dengan tingkah adiknya yang terpaut 10 menit lebih muda darinya.
“Tadi pagi, kamu….” Sebelum Feri menyelesaikan kalimatnya, Ferdi yang merasa dirinya semakin terancam membisikan sesuatu kemulut Feri hingga mulutnya terkunci.
“Kenapa?” Bu Santi, istri Pak Hendry tampak penasaran.
“Ferdi tadi pagi dapat 95 matematika. Padahal kalau satu nomor lagi benar bisa dapat 100.” Ferdi memberikan informasi yang menyenangkan itu.
“Iya, tapi aku 100. Kasihan deh kamu,” Feri pun menarik Ferdi dari kursinya.
“Hm, sekarang anak kita sudah besar ya Pak,” Bu Santi tersenyum melihat tingkah anaknya yang tampak ceria.
Setelah menutup pintu kamar, Ferdi pun menuturkan hal yang membuatnya aneh.
“Eh, tapi kamu jangan ledekin aku, ya?” Ferdi mencoba meyakinkan dirinya.
“Iya lah. Daripada papa mama yang tahu, mending aku saja yang tahu,” Feri tak sabar.
“Huh, coba kamu nggak ancam…”
“Udah ah, cepet. Mau nggak…”
“Oke, oke. Aku bakal cerita.” Ferdi pun membuka tasnya dan mengambil tiga kertas yang tidak mulus lagi. Kertas itu pun diberikan pada Feri.
“Udah tiga hari berturut-turut aku dapat kertas yang isinya seputar cokelat. Yang ketiga malah nyinggung kita. Aku jadi mikir, mungkin itu karena kulitku yang lebih gelap dari kulitmu…”
“Lho, jadi ini yang buat elo jadi aneh hari ini. Tapi kok aneh baru hari ini sih kamu anehnya?”
“Dua hari kebelakang aku nggak ambil pusing. Paling cuma orang iseng, pikirku. Tapiudah tiga hari lho. Gimana nggak pusing, coba?” Ferdi lalu menghempaskan badannya keatas kasur.
“Oh ya, tadi sore kamu kedepan ngapain?” Feri mencoba mengorek lebih dalam masalah yang dialami kakaknya.
“Udah ah, tidur yuk. Ngantuk nih.” Ferdi pun menutup mukanya dengan guling.
“Heh, makin aneh aja elo,” Feri pun meninggalkan kasurnya menuju ke kamar kecil untuk sikat gigi.
Setelah Feri telah benar-benar tertidur pulas diatas kasurnya, Ferdi bangkit dari baringannya. Ia lantas mengambil salah satu barang belanjanya dari tas punggungnya, ShineSkin. Lampu kamar mandi dinyalakan. Ia pun melepas pakaian yang melekat pada badannya. Tak lama setelah itu, ia mengikuti prosedur yang terdapat pada brosur ‘pemutihan kulit dengan ShineSkin’ yang didapat diujung lorong ‘Perawatan Tubuh’ KomplitMART. Setelah ia menyelesaikan semuanya, ia kembali ke kasurnya dan membayangkan dirinya memiliki kulit seputih adiknya.
= = =
Waktu pada arloji yang melingkar pada lengan Tika masih menunjukan pukul 6.15, tetapi kini ia telah berada didepan kelasnya demi menjalankan misinya, menemukan sang pemilik foto.
Hingga pukul 6.40 Tika masih duduk di bangku depan kelas XI IPS 1 dengan penuh konsentrasi. Ia mencocokan satu persatu wajah temannya dengan foto yang kini ia pegang. Matanya langsung berbinar ketika ia melihat Feri, Tika rasa Feri orangnya. Putih dan ganteng, seperti di foto, Tika yakin.
“Feri, elo orang yang numpahin keranjang di KomplitMART kemarin?” Tika menepuk pundak Feri yang lebih tinggi dari Tika.
“KomplitMART?” Feri belum memahami maksud Tika.
“Elo yang ngejatuhin dompet di KomplitMART?” Tika kembali memborbardir Feri dengan pertanyaan.
“Dompet gue masih ada kok di tas,”Feri mengelak.
“Elo yang beli ShineSkin di KomplitMART?”
“Apa? ShineSkin? Elo kira gue kurang putih?”
“Terus siapa lagi kalo ini bukan elo?” Tika pun menunjukkan fotonya kehadapan wajah Feri.
“Yey, ini sih bukan gue, ini Ferdi.”
“Lho, jelas-jelas ini kulitnya putih. Ferdi kan kulitnya cokelat,” Tika berusaha membenarkan tuduhannya terhadap Feri.
“Ya iyalah putih. Fotonya aja udah luntur. Ngomong-ngomong lo dapet dari mana foto ini?” Feri penasaran.
“Oh ya, kemarin gue kan ke KomplitMART. Tiba-tiba ada botol ShineSkin ngeluncur ke kaki gue. Nggak jauh dari situ ada dompet dan banyak makanan yang berserakan. Ada juga keranjang yang tergeletak. Mau disusul nggak enak. Akhirnya gue sakuin deh dompetnya, barang-barangnya gue tinggal. Pas gue udah beres belanja gue dateng ke Pusat Informasi. Kata Informan tadi ada orang yang nyari dompet dan pake seragam yang mirip sama gue.
Gue punya rencana buat balikin dompet di sekolah. Tapi pas gue mau buka dompet dirumah, dompet udah nggak ada. Yang nyisa cuma foto ini,” terang Tika.
“Oh… mungkin Ferdi itu pergi ke KomplitMART, bukan ke‘depan’,” Ferimendapat penjelasan atas kelakuan aneh saudaranya kemarin sore.
Setibanya didalam kelas, Feri langsung duduk dibangkunya dan langsung menunjukkan foto yang didapat dari Tika.
“Ini maksudnya apa?” Feri dengan nada mengejek.
“Eh, fotoku. Dari mana kamu dapet…”
“KomplitMART,” Feri menjawab dengan sedikit improvisasi.
“Eh, jangan-jangan,..”
“ShineSkin.”
“Eh, kamu tahu itu. Sssttt. Jangan ribut,” Ferdi menutup mulut Feri dengan tangannya.
“Nggak lah. Tenang, kakak,” Feri menjadikan foto itu sebagai topeng.
“Kamu ngeledek ya?” Ferdi pun menyubit tangan Feri.
“Ih, genit. Eh, BTW surat keempat ada nggak?”
“Nih…” Ferdi menunjukkan surat itu pada Feri.
HAI COKELAT. KALAU KAMU NGGAK MAU JADI GOSONG DATANG KE TAMAN SEKOLAH SEPULANG SEKOLAH.
“Lo mau datang kesana?Lo harus buktiin kalo elo nggak pantes diginiin terus,” tanya Feri.
Ferdi menggeleng, “ biarin aja deh. Nanti juga capek sendiri.”
“Aduh. Lo ini pasrah amat sih. Kasih perlawanan napa?” Feri tak tahan dengan tingkah kakakknya yang terlalu sabar.
“Sudahlah. Siapapun orangnya nanti juga muncul sendiri kalo udah capek. Sepintar apapun menyembunyikan bangkai tikus pasti ketahuan,” pungkas Ferdi.
“Tapi ini bukan bangkai tikus, Fred. Sampe kapan elo diem terus?” Feri semakin tak sabar dengan kakaknya.
“Tunggu saja,” Ferdi pun kembali hanyut pada buku yang tengah ia pegang.
‘Oke, gue bakal bela elo, Fred. Gimana pun caranya,’ Feri dalam hati.
= = =
“Feri, aku mau cari buku di perpustakaan. Mungkin agak lama. Kalo mau duluan, silahkan,” ucap Ferdi saat bel yang menandakan jam pulang sekolah telah tiba.
“Oh, nggak apa-apa, gue nunggu lo aja. Lagian gue nggak punya SIM dan nggak mau ditilang,” sambil menepuk pundak Ferdi.
“Kamu kenapa? Kok nepuk-nepuk pundak. Nggak biasa banget deh,” tanya Ferdi keheranan.
“Oh, nggak apa-apa. Emang nggak boleh adek nepuk pundak kakak?”
“Nggak apa-apa sih. Nggak biasa aja,” Ferdi tidak keberatan.
“Oh ya, gimana kalo aku tunggu didepan kelas. Aku mau main Laptop aja daripada kamu balik naik angkot,” usul Feri.
“Iya deh, terserah.”
= = =
Saat Feri berjalan ke arah taman sekolah, ia melihat Tyas duduk didekat kolam ikan.
‘Ah, mungkin ia orangnya,’ Feri membatin.
Ketika Feri mendekati Tyas, Tyas langsung berdiri tegak dengan muka sumringah. Namun wajahnya langsung layu ketika ia melihat wajah Feri.
“Lho, kok Ferdi jadi put…” Tyas mengucapkannya dengan kalimat yang terbata-bata.
“Putih maksud lo? gue Feri,” dengan nada marah. “Apa maksud lo ngirim surat ledekan itu keFerdi? Kamu dendam sama kakak gue?”
“Ngg…nggak, aku nggak mak…” jawab Tyas terbata.
“Jadi lo ada urusan apa sama kakak gue?”
“Itu bukan urusanmu. Ini urusanku sama Ferdi,” Tyas dengan keras.
“Itu tentu urusanku. Siapa pun yang menggaggu kakak gue harus berurusan sama gue,” Feri dengan menunjuk dadanya dengan telunjuknya.
“Udah deh. Ini urusanku,” Tyas tetap pada pendiriannya.
“Lo ini bener-bener keras kepala ya. Gue nanya bener sama elo, ADA URUSAN APA SAMA KAKAK GUE?” Feri kini telah berada pada titik geram tertinggi.
“A..aku…” Tyas tampak mengeluarkan air mata.
“Kenapa? Takut lo sama gue,” Feri dengan muka sangar.
“Fer, tolong. Jangan mar…”
“Jangan marah? Gue marah sama lo. Sekarang juga kamu bilang, ADA URUSAN APA SAMA KAKAK GUE?”
“Aku…” Tyas lalu berlari meninggalkan Feri dengan linangan air mata.
“Tyas bukan sih orangnya? Jangan-jangan gue salah lagi,” Feri bertanya pada dirinya.
Feri pun kembali kedepan kelasnya. Ia masih memikirkan perbuatan yang telah ia lakukan pada Tyas. Ia merasa keterlaluan padanya. Walaupun Tyas yang menulis surat itu, tentu sebagai lelaki tak selayaknya ia memarahi Tyas dengan cara yang kejam. Untuk menenangkan dirinya, ia pun memainkan Laptopnya hingga Ferdi kembali ke kelas.
“Ketemu?” tanya Feri.
“Ini,” Ferdi menunjukan buku ‘CARA KEREN BIKIN KAMU JADI CAKEP’.
“Maksud lo apa minjem buku gituan?” Feri dengan nada mengejek.
“Eh, jadi orang cakep itu dapet pahala. Kan kita bikin orang lain seneng. Apa yang salah?” Ferdi membela dirinya.
“Iya lah. Gue percaya lo nggak bakal jadi Playboy.”
“Maksudmu? Kamu nuduh aku mau jadi Playboy?” balas Ferdi.
“Udah ah. Cepet balik. Ntar gue buluk disini lagi,” Ferdi pun bergegas memasukkan Laptopnya kedalam tasnya dan meninggalkan kelas dengan hati yang tak karuan.
= = =
Keesokan harinya Tyas tidak masuk kelas dikarenakan sakit. Ferdi selaku ketua kelas berinisiatif mengumpulkan uang dari teman-teman kelasnya untuk dibelikan sesuatu untuk Tyas. Ferisemakin merasa bersalah karana telah memarahi Tyas kemarin.
“Hey, ada yang mau ikut ke rumah Tyas?” Ferdi menanyakannya setelah bel pulang berbunyi.
Tidak ada yang mengangkat tangan.
“Ngapain nengok orang rese kayak gitu? Nggak banget deh,” Tika menunjukan ketidaksenangannya pada Tyas.
“Tika, walaupun Tyas bikin kamu res…”
“Bukan cuma aku kok. Yang lain juga sama. Bener nggak?” Tika membela diri dengan memotong kalimat Ferdi.
Kebanyakan kepala didalam kelas mengangguk tanda sepakat dengan Tika.
“Oke, walau Tyas bikin kita rese, dia tetap teman kelas kita, kan? Jadi saat ia susah, kita tunjukin sedikit rasa peduli kita padanya. Siapa tahu dia bisa sedikit mencair didalam kelas kalo udah sembuh. Gimana, ada yang mau ikut?” Ferdi mencoba meyakinkan teman-temannya.
Tetap tidak ada yang angkat tangan.
“Feri, kamu mau ikut kan?” Ferdi mengalihkan perhatiannya pada Feri.
“Eh, boleh.” ‘Aku juga mau minta maaf sama kamu, Tyas,’ tambah Feri dalam hati.
= = =
‘Cokelat Susu Bersaudara’ pun menyambangi rumah Tyas.
“Oh, temennyaTyas. Ayo masuk,” Bu Fany, ibunya Tyas mempersilahkan keduanya masuk.
“Eh, kunci motorku ketinggalan. Aku mau ambil kunci dulu,” Ferdi pun bergegas meninggalkan Feri.
“Cepet lo.”
Feri pun masuk ke kamar Tyas dengan membawa parsel buah yang dibelinya bersama Ferdi.
“Tyas, mungkin kemarin gue terlalu keras marahin lo. Gue nggak suka kalo ada seseorang yang mengganggu sahabat sekaligus kakak gue,” Feri menghela nafas sejenak. “Lo mau maafin gue?”
Tyas mengangguk.
“Apa Fer? Kamu memarahi Tyas?” Ferdi tiba-tiba muncul dari pintu. “Ada masalah apa kamu sama Tyas?”
“Eh, Fer. Dengerin dulu…” Feri pun menarik Ferdi keluar dari kamar.
“Sebagai laki-laki, kamu nggak gentle dengan memarahi cewek.”
“Tapi aku juga nggak tahan sama kamu yang pasrah begitu saja diolok-olok dengan cara seper…”
Ferdi membisikan sesuatu hingga membuat Feri mengangguk-ngangguk.
“Kamu nggak usah sampe segitunya juga kali. Bagusnya kita nggak memperdebatkan masalah surat dari Tyas disini. Kasihan dia lagi sakit,” Ferdi dengan berbisik.
“Ok.”
Walaupun mereka berdua berbisik diluar kamar, Tyas dapat mendengar dengan baik apa yang dibicaran mereka berdua.
Saat mereka kembali kedalam kamar, tanpa disengaja Feri menyenggol meja belajar Tyas hingga membuat sebuah buku bersampul merah muda terjatuh dan membuka suatu halaman yang tergambar lambang hati yang besar. Ditengahnya tertulis nama ‘Ferdi’.
Ferdi terbengong sesaat melihat namanya tertulis pada buku ia. ‘Apakah Tyas mencintaiku?’ batinnya. Lalu ia pun mengambilnya.
“Tyas, boleh aku membuka-buka isi buku ini?” Ferdi dengan tatapan penasaran.
“Eh… ng… Gimana ya?” Tyas tampak salah tingkah.
“Udah deh, langsung aja baca,” Feri langsung merebut buku tersebut dari tangan Ferdi.
Tyas tampak tidak keberatan dengan kelakuan Feri.Cokelat Susu Bersaudara pun membaca diary Tyas secara acak.
Pada enam hari yang lalu, Tyas menceritakan tentang kejadian di taman sekolah yang membuat pertemuan Ferdi dan Tyas menumbuhkan cinta dihati Tyas.
‘Ia bagai oase di gurun pasir,’ tulis Tyas mengenai kesan yang ditinggalkan Ferdi padanya.
“Lo ngapain aja sampe dia nulis begini?” Feri menyenggolkan pundaknya pada pundak Ferdi.
Ferdi mengangkat bahu.
‘Kuingin berikan yang spesial untukmu,’ tambahnya diakhir catatan hari keenam.
“Apa yang pernah dia kasih ke elo?” Feri kembali bertanya pada Ferdi.
“Oke, aku akan jelasin semuanya,” Tyas yang dirinya merasa semakin terdesak kini berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
“Aku… mencintaimu. Aku pun ingin jadi milikmu. Namun aku mencoba mencari cara unik untuk menyampaikannya…”
“Maksudmu?” Feri lebih aktif dibanding Ferdi dalam mengorek masalah ini.
“Aku ingin membuat kesan yang berbeda tentang aku pada kakakmu dengan surat coklat, seperti cokelat yang Ferdi brikan padaku…”
“Dengan bonus mengolok-olok Ferdi?” Feri kesal.
“Tunggu dulu, aku ingin memberikan kejutan dengan caraku,” Tyas menghela napas sejenak,”Ferdi, ijinkan aku mencintaiku,”
“Wow..” Ferdi kaget dengan pernyataan Tyas yang to the point itu.
“Tak ada yang mau peduli denganku. Hanya kamu yang mau peduli padaku.”
Mendengar pernyataan itu membuat Ferdi tersadar dengan keberadaan Tyas dikelas yang selama ini cenderung kurang dianggap. Mungkin sifat pendiam dan cueknya membuat dirinya semakin terisolasi pada pergaulan.
“Tyas, semua orang peduli padamu. Tinggal kau yang membuka diri untuk teman-temanmu,” Ferdi mecoba member sugesti pada Tyas.
“Tapi selama ini aku tak dianggap, hanya kamu yang mau menanyakan kabarku…”
“Apa yang telah kau lakukan untuk mendapat perhatian teman-temanmu?” Ferdi kini terkesan mengintrogasi Tyas.
“Ng… aku… apa?” Tyas tampak bingung dengan jawaban yang harus diberikannya pada Cokelat Susu Bersaudara ini.
“Lo pernah mengucapkan ‘Selamat pagi’ ke teman lo dikelas?” kini Feri yang mengintrogasi.
Tyas menggeleng lemah.
“Lalu apa yang membuatmu merasa tidak dianggap kalau kamu saja tidak menunjukkan bahwa kamu ada?” Ferdi kini dengan nada menghakimi.
“Tolong,…” Tyas kini menitikkan air mata. “Jangan membuatku semakin tersudutkan.”
“Fred, kalau dia udah nangis kayak gini lo mau ngapain?” Feri berbisik pada Ferdi.
“Kamu diem dulu deh,” Ferdi menatap Feri meminta pengertian.
“Gimana coba?”
“Kita balik?” Ferdi meminta persetujuan.
“Yap,” Feri dan Ferdi pun mengayunkan kakinya keluar kamar Tyas.
“Tyas, kita mau balik dulu. Moga besok udah bisa sekolah ya. Inget, temen-temenmu nunggu disekolah,” Ferdi memberikan senyum.
Sebelum keduanya keluar dari kamar, Tyas meminta mereka berdua menghentikan langkah mereka sejenak.
“Tapi, apa kau mau jadi pacarku?” Tyas penuh harap.
Ferdi pun memalingkan wajahnya pada Tyas. Ia bimbang. Ia tahu Tyas bukanlah anak yang buruk. Ferdi juga tahu Tyas membutuhkan perhatian yang lebih untuk menguatkan hatinya. Namun hati kecilnya tak menghendaki Tyas untuk menjadi pacarnya. “Tyas, aku tidak dapat menjadi pacarmu…”
“Kenapa? Ada orang lain dihatimu? Kamu tega buat harapanku, cintaku buat kamu hancur begitu saja? Aku nggak nyangka kamu orangnya seperti itu. Aku kira kamu beda dari yang lain. Ternyata…”
“Aku bukan milikmu, aku juga bukan milik siapa-siapa. Semuanya milik Tuhan. Manusia tak memiliki apapun, dan kau harus tahu itu. Aku tak ingin persahabatan kita ternoda. Tapi kita bisa berteman, kan?” Ferdi menjelaskan sehati-hati mungkin. Iya tak ingin semakin memperparah suasana. Lagipula, menjadi pacar Tyas bukanlah satu-satunya cara menyelesaikan masalah ini, pikirnya.
“Iya, aku tahu,” Tyas dengan linangan air mata yang tak terbendung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s