Senja di Ufuq Barat

Teriakan anak2 berhaburan, memecahkan keheningan malam yang sunyi. Bertebaran dari sebuah surau di dekat parit, dengan seorang pengajar yang sudah cukup umur…, di sinilah mereka mendapatkan ilmu agama. Jhajang dan Wawan adalah dua sahabat yang sangat akrab. Dua orang sahabat ini, berjalan bergandengan tangan, memaduh persahabatan. Malam itu, suara jangkrik, dengan dihiyasi teduhnya rembulan malam, mereka bernyanyi di sepanjang jalan…
“langkahku semangkin lelah, berjalan menyusuri…
“mondar mandir, di keramayan kota…
“hati yang bingung, lamaran kerja ditolak…
“Tak tahu kenapa mungkin kurang syaratnya…
Tawa mereka menambah keakraban, malam yang begitu indah pun harus memisahkan mereka di pertiga persimpangan…, mereka harus pulang ke rumah mereka masing2…, malam pun menjadi sunyi, jangkrir2 pun bersaut-sautan.
“kukuruyukkk…”
Suara ayam membangunkan seisi desa yang hijau akan kekayaan alam. Masyrakat berbondong-bondong untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Anak-anak pun bertebaran menujuh sekolah yang amat jahu dari desa mereka. Jhajang dan sahabatnya Wawan pun menuju sekolah yang jauh itu. Tawa dua sahabat ini selalu memecah hari2 mereka, sehingga rasa leti, penat pun tak pernah mereka rasakan, walaupun mereka harus berjalan kaki tiga sejauh 3 km dari desa mereka, itu semua mereka lakukan di setiap hari-hari sekolah.
Tak sadar, sekolah yang mereka tuju pun sudah di depan mata. Sekolah dasar yang sederhana, dengan tembok yang mulai roboh, cat yang mulai memudar dan guru yang sedikit. Dari sekolah inilah, dua sahabat ini mendapatkan ilmu, dari yang awalnya mereka tak tahu menjadi tahu, begitu pun teman2 yang lain, dari mulai pelajaran sampai selesai pelajaran. Mereka tak pernah surut untuk menambah ilmu, agar kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang berguna, untuk masyrakat terutama untuk diri mereka sendiri.
Bel berbunyi…, anak-anak bertebaran untuk pulang ke rumah masing-masing. Dua sahabat ini pun pulang dengan berjalan kaki seperti biasanya. Canda dan tawa selalu terpancar dari wajah mereka, hingga mereka sampai ke rumah mereka masing-masing.
Jhajang: Wan, entar main yukk??
Wawan: hemm..yah..tunggu aku di rumah mu yahh??
Jhajang: yahhh..
(perbincangan dua sahabat itu pun berakhir, mereka pun bersiap-siap untuk makan siang)….
“siang menjelang sore, Jhajang dan Wawan bermain di sebuah lapangan, yang kebanyakan anak-anaknya seusia mereka untuk bermain. Permainan yang mereka mainkan itu, berragam, dari main buah karet, kelereng, anjing-anjingan, dan masih banyak lagi permainan yang mereka ikuti. Keasikan bermain, sore pun datang. Mereka pun berhaburan untuk meninggalkan lapangan yang banyak akan pohon-pohon karet. Jhajang dan Wawan, dua sahabat ini pun pulang. Di sepanjang perjalanan, dengan pakaian yang kotor dan rambut acak-acakan..
Wawan: Jhang, tamat sekolah ini kamu mau ke mana??
Jhajang: hemm…ngak tahu Wan..emang kenapa??
Wawan: engak..denger-dengernya kamu mau ke Palembang yahh??
Jhajang: kata Mak sihh gitu,,,tapi aku ngak tahu juga…liat ajah besok…hehe…
Perbincangan itu pun, membawa mereka sampai ke rumah, dua sahabat ini pun berpisah di pertiga persimpangan.
Malam pun tiba, hari-hari mereka habiskan untuk belajar, membuat perkerjaan rumah (PR) sampai tetidur di rumah mereka masing-masing, maklum malam itu mereka libur mengaji. Malam pun berlalu, pagi pun menyapa desa yang penuh akan pohon-pohon karet ini. Terlihat dari kejahuan, Jhajang berjalan menuju rumah Wawan, dengan keaadan yang rapih disertai derasan air mata…
Jhajang: assalamualaikum…(dengan tersedu-sedu)
Wawan: waalaikum sallam…(sambil membuka pintu rumahnya..)
Jhajang: Wan, Jhajang pamit…(air matanya selalu menetes…)
Wawan: (*bengong..tak tahu apa-apa, Wawan langsung memeluk temannya)
Ada apa Jhang?? kok nangis?…
Jhajang: ini..Wan..Jhajang harus pergi ke Palembang ma Emak, kata Emak, kami ngak balik-balik kesini lagi…
Wawan? air mata nya pun mengalir, betapa tidak..temanya yang sudah lama dia kenal harus pergi dengan tiba-tiba..tangisan pun memenuhi ruang di pagi yang cerah itu..
Wawan: yahh..sudah..Jhajang kalau sudah pergi dan tak balik kesini lagi, jangan lupa ma Wawan yahh??
Jhajang: yahh…Jhajang pamit dulu…
Wawan pun mengantarkan Jhajang sampai terminal di dekat desanya, dengan keadan yang kusut.
Jhajang? dengan melambaikan tangannya..) dadah sob…
Wawan: dadah..hati-hati di jalan…
Jhajang: yahh.. jangan lupakan persahabatan kitaaa (di atas mobil yang di tumpanginya)
Wawan: kamu juga…(dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya)
Mobil yang di tumpangi sahabat pun berlalu,di persimpangan menuju ke pelembang. Wawan pun melihat mobil bus yang ditumpangi sahabatnya itu, sampai tak terlihat lagi, sesudah itu baru dia pulang..
Hari-hari dijalani dengan sendiri, kesepian selalu menyelimuti hati Wawan. mungkin ini adalah yang terbaik baginya dan sahabatnya. Perpisahan harus memisahkan mereka.
Pesan moral: ”perpisahan bukan akhir dari persahabatan…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s