Seandainya Senpaiku Tanpan

Keringat mengucur deras di wajahku, padahal ini baru saja selesai pemanasan belum masuk pada latihan inti. Aku rasa senpaiku yang satu ini lebih tidak manusiawi dari pada senpai yang satunya. Huh, padahal usianya sama denganku ya mungkin karena sabuknya saja yang sudah warna hitam jadi dia bisa bebas mau memberikan latihan seperti apa pun. Satu hal lagi yang membuatku tidak begitu menyukainya adalah, dia tidak begitu tampan dan wajahnya pun tampak cuek. Pokoknya tidak mengenakkan deh dipandang.

Hari sudah semakin sore namun latihan inti baru saja dimulai. Aku tidak begitu fokus mengikuti latihan karena kepikiran untuk ulangan harian MM dan sosiologi besok karena itu aku beberapa kali salah mempraktekan gerakan. Padahal, gerakan-gerakan itu sudah serasa di luar kepala bagiku namun namanya juga tidak fokus jadinya gerakanku sedikit kacau deh. Waduh, kalau gerakanku nanti salah berarti aku tidak bisa ikut UKT 2 minggu lagi. Ah, aku harus fokus. Ayo, fokus Anna fokus.

“Sekarang kita latihan Kata 1.” Kata Ivan senpai yang tadi aku bilang seumuran denganku itu. Kata 1 bagiku sudah di luar kepala, ya aku memang sudah hafal betul Kata 1. Ivan pun berkeliling untuk melihat apakah ada yang gerakannya kurang tepat atau bahkan salah, seperti guru pada umumnya dia pun membenarkan gerakan-gerakan yang salah. Aku pun berhasil mempraktekkan Kata 1 dengan benar.

Setelah latihan Kata 1 latihan pun berlanjut ke Kata 2. Gawat, aku tidak begitu hafal gerakan pada Kata 2, bagaimana ini? Aha, di sekelilingku kan banyak anak aku kan bisa meniru gerakan mereka. Latihan Kata 2 pun dimulai, di awal-awal gerakan aku bisa mempraktekannya dengan benar namun ketika masuk bagian gerakan akhir. “Hey, kakimu salah. Yang maju kaki kiri bukan kaki kanan.” Kata Ivan lalu ia menendang pelan kakiku yang salah dan aku pun membenarkan posisi kakiku, “Kamu ini sudah kelas 11 bikin malu saja.” Lanjut Ivan seusai membenarkan posisi kakiku. Apa? Aku malu-maluin? Biasa aja deh, Van. Tuh anak sekolah sebelah yang ikut latihan dari tadi juga salah mulu nggak kamu benerin kok. Aku tuh dibilangin aja juga tahu, nggak usah diejek seperti itu juga kenapa sih. Aku pun hanya diam dan memandangi punggungnya yang kian menjauh, “Kalau saja kau tidak sabuk hitam… kamu tidak akan jadi senpaiku, kan?” Batinku.

Tepat seperti dugaanku sebelumnya, gerakanku pun masih ada beberapa yang salah dan Ivan pun terus membetulkan gerakannku tentunya bukan dengan cara yang lembut dan aku pun juga tidak berharap demikian karena itu justru akan membuatku jijik. Zahra, pasanganku dalam aplikasi Kata mengajakku pindah ke bagian depan. Aku sebenarnya tidak mau karena di sana ada banyak anak latihan, aku malu kalau mereka tahu aku masih banyak salah dalam gerakan. “Aaaah, Zahra kenapa harus pindah ke depan sih?” Tanyaku pada Zahra dengan gaya sok imut berharap dia akan membatalkan niatnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang laki-laki menirukan ucapanku tadi, aku pun menoleh ke arah pemilik suara itu dan ternyata dia adalah Ivan. “Apa-apa sih kamu menirukanku?” Tanyaku pada Ivan dengan nada kesal. “Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong.” Jawabnya dengan enteng. Aku tidak habis pikir dengan anak itu, kenapa sih dia mengurusi apa pun yang aku perbuat bahkan hal tidak penting sekali pun.

Latihan pun dihentikan sejenak untuk istirahat. Aula pun mendadak sepi karena sebagian besar anak pergi ke mushola untuk menjalankan sholat. Namun aula tidak benar-benar sepi karena masih ada aku, Zahra, Ivan, dan beberapa anak lain yang tidak sholat. Badanku benar-benar lelah sekali dan aku pun juga mulai mengantuk. Aku pun menegak air mineral yang baru aku beli di kantin, rasanya begitu segar mengaliri tenggorokanku yang rasanya kering sekali. Seusai minum air aku pun melihat ada seseorang memasuki aula. Dia tampak asing, dan nampaknya senior juga karena dia sudah bersabuk hitam. Aku pun terpaku menatapnya karena dia begitu tampan. Dalam hati aku berkata “Seandainya senpaiku setampan dia, pasti aku jadi sangat semangat dan tidak mengomel saat latihan meski ditendang sekalipun.” Baru saja aku berkata seperti itu, dia pun menoleh ke arahku kemudian tersenyum sambil berjalan ke arahku. Oh, apakah ini mimpi? Lelaki setampan itu datang menghampiriku? Apakah mungkin ini saatnya aku bertemu seorang pangeran? Eh, salah bukan pangeran tapi jodoh maksudku.

“Hai, Anna.” Sapa pangeran tampan itu, dari mana dia tahu namaku? “Ha-hai, juga.” Balasku aku pun kemudian berdiri dan memberi salam padanya “Osh!” Dia pun tersenyum ramah dan membalas salamku. “Anna, kamu sepertinya kesulitan ya dalam latihan kali ini apa lagi senpaimu itu agak menyebalkan bagimu, kan?” Tanya pangeran itu.
“Bukan agak, tapi sangat menyebalkan.” Jawabku.
“Kalau begitu, boleh kan aku mengajarimu? Gerakan mana saja yang masih belum kamu kuasai?”
“Mau gerakan dasar sampai aplikasi Kata pun aku mau diajari semuanya asalkan senpai yang mengajariku.”
“Baiklah, ayo kita mulai latihan kita.”

Dia mengajari semua gerakan yang belum aku kuasai, ya semuanya sampai aku benar-benar bisa. Tidak seperti Ivan, senpai yang satu ini lebih sabar dan yang penting lebih tampan darinya. “Anna, sepertinya kamu sudah siap untuk UKT 2 minggu lagi. Semoga kamu lulus dan dapat nilai bagus, ya.” Kata senpai tampan itu “Terimakasih banyak sudah mengajari saya.” Kataku, dia pun tersenyum ramah dan menambah rasa sejuk di hatiku.

“Kak, bangun. Latihannya mau dimulai lagi, nih.” Kata Zahra sambil mengguncang-guncangkan pundakku. Aku pun mengucek mataku yang masih terasa berat. Eh, di mana senpai tampan yang tadi? Aku pun menoleh ke segala arah mencari-cari sosok senpai tampan tadi. “Kakak mencari siapa?” Tanya Zahra “Ehm, bukan siapa-siapa kok.” Elakku. Jadi, yang tadi itu hanya mimpi. “Dek, aku tadi ketiduran ya?” Tanyaku pada Zahra “Iya, Kak Ivan yang nyuruh aku bangunin kakak.” Jawab Zahra. Yah, Ivan lagi. Ivan pun berjalan ke arah kami, “Cepat masuk barisan.” Perintah Ivan kepada kami. Aku dan Zahra pun berjalan ke arah barisan. Ketika aku berjalan melewati Ivan dia pun memanggil namaku “Anna.” Aku pun menoleh “Apa lagi?” Tanyaku. “Kalau latihan yang serius dan satu lagi, jangan tertidur lagi di sini. Apa kamu tidak malu saat mengigau dilihat orang?” Kata Ivan setelah itu dia ganti berjalan melewatiku untuk memimpin latihan. Aku hanya diam mematung mendengar perkataan Ivan dan saat itu aku pun sadar kalau aku memang memalukan.

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s