Salah Paham

Apa yang harus Aku lakukan ketika Sahabatku membenciku hanya karena hal sepele? Haruskah penjelasan itu Ia abaikan? Setidak pentingkah suatu penjelasan itu? Hingga akhirnya suatu kesalah pahaman pun muncul di antara kami.

“Main yuk?”
Satu pesan masuk melalui ponselku. Aku terkejut. Sangat terkejut. Dia Nita. Sahabbatku. Aku benar benar tak percaya. Pasalnya setelah kita pisah sekolah, karena kita hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia jarang mengabariku. Atau mungkin kita bisa sebut lost kontak. Akhirnya aku menjawab dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Yukk”. Sehrian itu kuhabis kan sisa pulsaku hanya untuk membalas pesan darinya sampai kita menyepakati waktu dan tempat yang telah kita setujui untuk pergi main.

Singkat cerita. Akhirnya sampai hari dimana kita bertemu untuk yang pertama kalinya kembali. Aku segera menunjukan senyum bahagia. Begitupun dengannya. Ia langsung menghampiriku, memeluku yang masih berada di motor. “gimana, sehat?” tanyaku padanya. Ia tersenyum seolah masih tak menyangka kita bertemu. Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya sebagai simbol bahwa ia menjawab Ya.

Di perjalanan kita saling bertukar cerita. Tertawa kembali. Aku pun masih tak percaya bahwa kita sekarang sedang bersama. Sampai titik pembicaraan kita
“Amel?” tanyanya padaku.
Aku yang sedang berkonsentrasi membawa motor terpaksa harus mengalihkan wajahku ke spion motor agar dapat melihat wajahnya.
“Ya, ada apa?”
“Atikah sekarang lagi deket sama Adnan, emang bener?” tanyanya serius mengenai Atikah, temen sekelas kita sewaktu SMP, dan Adnan, mantan pacarnya.
“kurang tau Nit. Emang kamu tau dari siapa?” aku balik bertanya.
“Aku lihat sendiri di pesan Adnan” jawabnya

Atikah. Dia walaupun bukan sahabatku, tapi dia sangat baik. Ketika Aku dan Nita sedang ada masalah, Aku mencurahkan sedikit keluhku padanya. Dan Ia sangat menyambutku kapan pun. Bagaimana pun Atikah, dia tetap temanku. Teman yang selalu menolongku. Aku dilema sekarang. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku akan beritahu Atikah agar tidak dekat dengan Adnan. Tapi sama saja aku melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Begitu juga dengan Nita. Jika aku tak memberitahu Atikah, pasti dia akan sakit hati. Tapi Nita dan Adnan sudah tak ada hubungan lagi.

Setelah sampai di rumah, aku segera memberitahu Atikah. Bukan karena Adnan, tapi memberitahukannya agar tidak dekat dengan Fino. Karena jujur Aku menyukai Fino. Akhirnya Atikah menyurah kan semuanya lewat facebook dan Nita membacanya. Satu kata yang di postingnya ‘Maaf’. Lalu Aku mengomentarinya “Iya Atikah tak apa, semua bukan salahmu”. Tak kusangka, postingan Atikah dan komentarku membuat Nita marah. Lalu Nita juga memposting kata kata untuk menyindirku selama menjadi sahabatnya.

Tak selamanya sahabat yang dibangga banggakan menjadi yang terbaik. Selamat telah berhasih membuatku terluka dan telah berhasih membuat retakan di antara kita.

Aku yang membaca postingan tersebut langsung menangis sejadi jadinya. Ia salah paham. Apa yang harus kulakukan? Menyerah? Membiarkan persabatan ini rusak? Ini semua salahku. Seharusnya Aku tak memberitahu Atikah secepat itu. Nita mengira Aku memberitahu Atikah mengenai Adnan. Tapi itu salah.

Segera Aku menghubungi Atikah. Betapa baiknya dia. Dia mau menjelaskan semuanya pada Nita. Langsung Aku berterimakasih padanya. Aku yang melarangnya agar tidak dekat dengan Fin, sekarang mau membantuku untuk merapikan masalah Aku dan sahabatku.

Waktu berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini, Aku dan Nita kembali hilang komunikasi. “kringgg”. Tiba tiba suara teleponku terdengar nyaring di kamar. Aku segera mengangkatnya.
“Hallo?” Aku berusaha mengetahui siapa yang menelponku. Karena di sana tak ada nama yang tercantum.
“Mel?” dia mulai berbicara. Aku kenal suara ini. Seperti suara… Nita.
“Nita?”
“Mel, maafkan Aku. Aku salah faham. Aku menjauhimu, Aku menyindirmu lewat medsos, Aku mengganti nomor teleponku. Aku mainta maaf Mel..”
“Nit, selama ini Aku merasa tak ada yang salah darimu”
“Tidak mel. Kau tak paham. Aku mengira kau memberitahu Atikah tentang Adnan, tapi aku salah..”
“dan mulai sekarang coba untuk saling megerti”

Akhirnya, kami tak hilang komunikasi lagi. Hubungan Nita dan Atikah pun sekarang sudah seperti teman. Sama halnya seperti Aku dan Atikah. Namun Aku dan Nita, kami masih bersahabat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s