Rama Sahabatku

Perkenalkan, namaku Chandra. Lengkapnya Galuh Ajeng Kalandiastri Chandra Kirana Sukrani. Namaku ini memang kedengarannya seperti cowo, tapi aku ini cewe. Memang aku ini agak tomboy, seperti namaku, tapi yang namanya cewe ya tetep cewe. Aku bersekolah di SMP Junjungan Langit dan aku mempunyai sahabat bernama Ramayana. Ia dan aku sudah bersahabat sejak TK karena kami selalu berada di satu sekolah dan kelas yang sama. Rumah kami juga berdekatan, tidak lebih dari 1 kompleks perumahan.
Kami selalu bersama. Jika Rama ada, aku pasti ada bersamanya. Mungkin itu yang menyebabkan aku jadi agak tomboy, suka bermain bola yang merupakan kesenangan laki-laki. Menurutku, saat-saat seperti itulah yang paling menyenangkan, meskipun terkadang kami suka bertengkar. Tapi itu tidak berlangsung lama hingga berhari-hari. Tak lama kemudian, pasti salah satu dari kami akan mengalah dan meminta maaf. Ah, indahnya persahabatan ini…
Namun, sejak memasuki SMP, tepatnya kelas 7, ada sesuatu yang berubah. Teman-teman kami mengejek kami pacaran. Aku berusaha mati-matian untuk menghindari ejekan itu. Tapi, semakin aku marah, semakin besar niat untuk mengejek kami. Akhirnya, aku dan Rama memutuskan untuk saling menjauh. Hal ini berlangsung lama, termasuk ejekan-ejekan yang semakin hilang itu. Aku dan Rama merasa sudah lebih baik, tapi aku merasa kehilangan teman terbaikku.
Aku telah memiliki teman cewe, yang memang sepantasnya bagiku. Mereka adalah Mitha, Gilea, dan Karina. Sedangkan Rama, ia masih bersama klubnya AmBaRaWa yang terdiri dari Amarta Fajar (Fajar), Arjuna L. Bayu (Bayu), dan Indra Wahyudi (Wahyu). Sehingga dengan begitu, aku dan Rama tidak pernah lagi saling berkomunikasi, sekalipun kami satu kelompok belajar. Aku cukup bangga sebenarnya dengan kelompok cewe ini, mereka baik, pintar, dan sangat berguna jika aku yang kurang ini sekelompok dengan mereka. Memang rasanya berat jika harus pindah kelompok dari kelompok Rama ke kelompok ini. Tapi itu satu-satunya cara agar terbebas dari ejekan pacaran itu.
Namun lama kelamaan, aku mulai bosan dengan mereka. Mereka tidak suka berkeringat dan capek. Justru mereka lebih suka menggosip, entah itu soal artis ngetren kayak Suju, SM*SH, Greyson Chance, JB, dll atau teman-teman di kelas. Menurutku, pembicaraan ini kedengaran tidak menyenangkan jika aku yang menjadi bahan pembicaraan itu. Akupun jadi kesepian, ingin sekali aku bermain bola atau kejar-kejaran seperti dulu. Tapi, rasanya tak mungkin itu akan terjadi lagi.
Suatu siang yang panas sekali, saat jam istirahat di dekat lapangan, seperti biasa Mitha, Gilea, dan Karina menggosip lagi. Aku yang ada di samping mereka diam saja sambil mengunyah roticoklat dan kismis buatanku sendiri. Dulu, aku ingat sekali ini adalah makanan favorit aku dan Rama. Kami suka sekali saling berbagi makanan. Aku paling senang saat melihat gaya memakannya Rama yang lucu. Eh, jadi keingat masa dulu deh… Tiba-tiba saja suara Fajar yang keras membuyarkan lamunanku.
“Gil, bagi minumnya donk,” kata Fajar sambil menghapus keringat di dahinya pada Gilea.
“Tidak mau ! Kamu bau dan jorok ! Sana pergi !” sahut Gilea dengan kasarnya.
Seketika itu juga, Fajar melirikku dan meminta minumku seperti katanya pada Gilea yang ada di sampingku.
“Chan, boleh kan aku minta minum ?” ujarnya.
“Ambillah, aku punya dua botol. Ini, kuberikan satu untukmu,”jawabku sambil menyerahkan sebotol Frestea dingin pada Fajar.
Tepat saat itu Mitha, Gilea, dan Karina beranjak dari tempat duduk mereka dan merebut sebotol Frestea dingin yang hampir mau dipindahtangankan ke Fajar.
“Kalian ! Itu kan buat Fajar ! Kok kalian gitu sih ?” teriakku.
“Buat apa dikasih, ntar keenakkan ! Mending dia beli sendiri aja, memangnya ga punya duit ?” sahut Mitha.
“Dasar Chandra, kamu tuh terlalu baik, kalo mau berbuat baik, mikir dulu donk buat siapa,” ejek Karina.
“Atau… jangan-jangan… Chandra naksir Fajar ?” tembak Gilea.
“Ciee… Chandra naksir Fajar…!” teriak Mitha, Gilea, dan Karina.
Teriakan itu keras sekali hingga semua yang ada di sekitar lapangan itu mendengarnya, termasuk Rama yang saat itu sedang bermain bola. Sentak ia kaget dan menjatuhkanbola yang sedang berada dalam genggamannya.
Aku telah berusaha mati-matian, lagi, di depan umum. Aku hampir menangis gara-gara hal besar yang terlihat sepele itu. Fajar betul-betul tak paham keadaan buruk yang menimpa diriku ini. Itu terbukti karena ia sangat marah melihat aku, temannya disakiti.
“Hei, tukang gosip ! Braninya sama Chandra doing ! Apa kalian tidak piker apa yang telah ia rasakan ? Hah ?’ omelnya dengan nada tinggi.
Hal itu justru menyayat hatiku semakin dalam, karena apa yang Fajar lakukan dapat menarik perhatian orang-orang, terutama guru-guru dan…
Rama yang mendengar hal itu akhirnya menyagka-nyangka hal yang salah. Ia menduga memang benar ada hubungan antara aku dan Fajar, padahal sebenarnya bukan. Aku dan Fajar adalah sahabatnya sejak kecil, tapi kami telah menyakiti dirinya. Akhirnya, satu masalah itu membuahkan hal-hal yang sama sekali tidak diinginkan oleh pihak-pihak yang terlibat.
Pada hari esoknya, aku memilih untuk tidak masuk, meskipun ada ulangan Fisika hari ini. Aku tak tahan lagi dengan semua ini. Hatiku teriris-iris dan darahku mendidih… Ingin sekali aku bebas dari semua masalah ini. Pindah sekolah ? Ya ! Tapi tiba-tiba aku teringat sahabat karibku, yang dulu. Malam itu, aku menelponnya. Kutekan secara perlahan tombol-tombol angka di telpon rumahku. Lalu dengan gemetaran aku menekan tombol ‘panggil’ sambil berharap akan ada yang menjawabnya.
C : “Halo, di sini Chandra. Bisakah saya berbicara dengan Rama ?”
R : “Ya, saya sendiri. Apa kau ingin menanyakan PR dan pelajaran hari ini ?”
C : “Ehm, kurang lebih begitu.”
R : “Maaf, aku tidak bisa memberitahukannya.”
C : “Ke…kenapaa…?”
R : “Satu hal lagi, kita bukanlah sahabat seperti dulu lagi. Dan kau dulu ingin memutuskan persahabatan kita kan sewaktu kita diejek pacaran ? Ya, baiklah, kalau itu maumu. Selamat tinggal !”
C : “Ta…tapi…”
Sayang sekali telpon sudah ditutup tanpa menghilangkan tanda tanya dalam hatiku. Kenapa tiba-tiba Rama memutuskan persahabatan ini ? Aku teringat kejadian saat aku dan Rama memutuskan untuk saling menjauh.
C : Rama, kau tau kan selama ini kita diejek terus ?
R : “Ya, aku tahu benar.’
C : “Aku tak tahan lagi dengan semuanya. Maafkan aku jika aku harus mengatakan sesuatu.”
R : “Apa ?”
C : “Sebaiknya mulai sekarang kita menjauh saja.”
R : “Tidak, aku tak mau kehilangan sahabat sepertimu. Kumohon jangan.’
C ; “Apa kau tak bisa rasakan sakitnya diejek terus ?Seandainya saja iya, seharusnya kau paham keadaan ini.’
R : “Apa menurutmu dengan menjauh, semua masalah akan beres.’
C : “Ya, menurutku, pasti.’
R : “Ehm, baiklah kalau itu maumu, tapi aku berharap kau tidak memutuskan persahabatan ini ya…”
Pertanyaannya yang terakhir taku jawab, karena saat itu perasaanku sedang random. Tapi,aku merasa tak pernah meminta untuk putus persahabatan. Atau… jangan-jangan soal kemarin ?
Aku mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. Mungkin, itukah yang membuat Rama memutuskan persahabatan ini ? Sesal tiada guna sekarang. Dan sia-sia jika harus menjelaskan pada orang seperti Rama. Dulu, aku juga susah sekali untuk bersahabat dengan Rama. Aku ingat sekali saat TK, dia itu musuhku yang menyebalkan. Ia suka menarik rambutku, menyengkay, dan menyembunyikan bukuku. Tapi itu masih lebih baik daripada sekarang. Sekarang ini aku diapit dua masalah yang amat besar !
Pada hari berikutnya, dengan amat sangat terpaksa aku ke sekolah. Aku berencana untuk bolos, tapi takut ketinggalan pelajaran lagi. Di sekolah, lagi, ejekan yang bertubi-tubi datng menghujam hatiku. Kesabaranku bias habis. Tapi aku berusaha untuk mendiamkannya karena aku ingin melihat keadaan Rama. Di kelas, Rama mencuekiku seperti tidak kenal sama sekali. Kupikir, dia benci padaku dan Fajar. Oh Tuhan… bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?
Hari ini aku dan kelasku mengikuti pelajaran olahraga. Sekalipun ini menyenangkan bagiku, aku tetap tak dapat menyembunyikan perasaanku di wajahku. Pelajaran hari ini adalah lari. Itu adalah salah satu olahraga kesukaanku. Tapi yang kal ini beda. Aku harus melewati rintangan-rintangan lainnya juga. Awalnya aku bersemangat sekali hingga putaran ke 12. Butuh 8 putaran lagi untuk capai nilai sempurna, dan itu harus kujangkau. Sayang sekali di putaran-putaran selanjutnya aku sudah tak terlalu kuat. Tapi aku berniat untuk mencapai garis finish. Di putaran terakhir yaitu putara ke 20, murid yang tersisa tinggal aku dan Rama. Tepatnya, aku berada 10 meter di depannya. Tapi, napasku tak bersisa banyak, sehingga saat 5 meter lagi menuju finish, aku terjatuh dan pingsan. Akhirnya dengan mudah, Rama melewatiku. Tapi saat ia berada di depan garis finish, ia berbalik dan menopangku ke luar area lapangan.
Beberapa menit kemudian, setelah aku siuman, teman-temanku “Si Penggosip” mengejekku, “Chandra playgirl, Chandra playgirl, baru beberapa hari saja sama Fajar ganti lagi sama Rama.”
Spontan aku ingin menghajarnya, tapi tanganku yang akan mendarat di wajah mereka tertahan oleh Rama. Tentu saja aku, Mitha, Gilea, dan Karina kaget.
“Ini yang terakhir kalinya aku memaafkan kalian. Ingat, sekali lagi kalian mengganggu sahabatku, akan kulaporkan kalian semua !” sambar Rama.
Air mata meleleh di pipiku, bukan berarti aku sedih, namun aku terharu karena Rama kembali menyebutku sebagai sahabatnya. Ia menatapku sesaat.
“Chandra, aku telah memikirkan baik-baik soal hubunganmu dengan Fajar. Seharusnya aku tidak emosi dulu ketika mendengar hal itu. Dan itu hanyalah masalah yang bukan sepantasnya untuk kita. Kalau memang ada perasaan padanya, aku akan merelakannya, tapi itu nanti, saat dewasa. Dan sekarang aku ingin meminta maaf karena berburuk sangka padamu. Aku begitu bodoh, sama seperti mereka. Jadilah sahabatku lagi dan kita lupakan semua masalah ini,” katanya sambil membungkuk di hadapanku. Sentak aku kaget dengan sikapnya yang terlalu terus terang di depan umum. Dengan segera, aku membangunkannya. Aku memaafkan semua yang terlibat, termasuk “Si Penggosip” itu.
Akhirnya aku dan Rama menjadi sahabat kembali, tentunya bersama Fajar, Bayu, dan Wahyu. Dan sejak saat itu, entah mungkin karena kejadian ini, tidak ada lagi yang menggosipi aku jika aku bermain bersama sahabatku yang paling kukasihi. Lagipula, untuk apa sih mereka menggosipiku ? Ngefans ? Ah, dasar mimpi. Tapi persahabatanku dengan AmBaRaWa bukanlah mimpi. Apapun yang terjadi, aku yaitu G.A.K. Chandra Kirana S. dan I.G.K.Y.B. Ramayana A.D. akan selalu menjadi…

‘S A H A B A T’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s