Osis Displeasure

Sialan, tahu begitu kutendang tulang keringnya lebih keras dari kemarin hingga dia meringis kesakitan seperti seorang bayi yang merengek minta susu pada ibunya. Bagaimana tidak, orang itu telah menipuku sekaligus orang-orang yang mendukungnnya!.Dia bilang, jika dia terpilih menjadi Ketua OSIS, dia akan melakukan tugasnya dengan baik. Tapi apa buktinya?!. Selain itu dia juga seenaknya memperlakukanku sebagai seorang budak!. Cuih. Dia pikir, aku ini boneka yang bisa dimainkannya sesuka hati. Atau karena hanya aku perempuan, dia menganggapku lemah?.

Yap, kuakui, aku memang seorang perempuan. Tapi, bukan berarti dia memperlakukanku sebagi budak sekaligus bonekanya, kan?!. Benar-benar, dia telah membuatku sengsara. Hanya karena bermodal jabatan yang lebih tinggi dariku, ia memperlakukanku seenaknya. Seharusnya dia sadar, akulah orang yang paling berjasa baginya, begitu juga dengan orang lain. Tanpa dukungan kami, dia tidak akan terpilih menjadi ketua OSIS di SMA Praja Taruna, sekolah tercinta kami ini. Yaaa, jabatanku memang berada dibawahnya, ya, aku wakilnya. Tapi, aku selalu diperlakukan seperti budak, babu, dan bonekanya.

Bayangkan, dengan kesombongannya, ia memberikan semua tugas yang bertumpuk – seperti gunung—ini kepadaku dan berkata, “Nih, kerjakan semua laporan ini!. Yang becus ya!.”. Apakah dia tak punya perasaan sama sekali?!. Atau, jangan -jangan dia tidak pernah belajar Pendidikan Kewarganegaraan sejak SD?!. Huh, cowok yang payah!. Harusnya dia tahu semua orang di dunia ini juga punya hak. Bukan Cuma kewajiban. Termasuk aku. Aku kan juga manusia, bukan robot –atau boneka—yang bisa disuruh-suruh sesuka hati.

Rasanya, kalau aku mengingat wajahnya, aku ingin meninjunya keras-keras. Apa dia belum puas setelah kemarin dia menyuruhku untuk membuat undangan rapat anggota OSIS dan menyuruhku untuk menge-printnya?. Ternyata benar, dia memang tak punya perasaan. Pasti kalau aku sudah selesai mengerjakan laporan-laporan ini, dia akan mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa semua laporan ini dia yang mengerjakannya. Padahal, aku yakin, setiap hari, kerjanya hanya bersantai-santai tak karuan. Sementara aku?. Ya, kamu tahu sendiri kan, aku kerepotan mengerjakan semua tugas ini.

Aaaah… daripada aku memikirkan orang seperti itu, lebih baik aku menenangkan diriku dengan mendengarkan lagu favoritku – Love, Oh Love, yang dinyanyikan oleh Davichi ( salah satu grup duo asal Korea Selatan). Oh iya, gara-gara kekesalanku pada orang itu – sebenarnya, namanya bukan “orang itu”, tapi Glenn Devano. Yaah, namanya memang keren, tapi tak sesuai dengan kelakuannya—,aku sampai lupa memperkenalkan diriku. Namaku Lovita Kania, aku kelas XI, dan jabatanku disekolah sebagai Wakil Ketua OSIS. Ya, aku mendapatkan jabatan yang dididam-idamkan oleh semua siswa SMA. Tapi, aku malah tak menginginkan jabatan itu sama sekali. Aku heran kenapa mereka – para siswa yang mendukungku – memilihku sebagai Wakil Ketua OSIS?. Mungkin, aku memang pantas mendapatkan jabatan itu. Tapi, jika setiap hari aku harus bertemu dengan Glenn, aku akan menyesal pada diriku sendiri!.

Semuanya berasal dari kejadian dua bulan yang lalu, saat pemilihan pengurus OSIS. Setiap kelas, khususnya kelas XI, diwajibkan untuk mengutus seseorang dari anggota kelasnya untuk menjadi pengurus OSIS. Aku, tentunya mewakili kelasku, kelas XI IPA 3. Teman-teman sekelasku sepakat untuk memilihku sebagai calon pengurus OSIS. Kami – semua siswa— mengadakan rapat di ruangan OSIS. Setiap kandidat harus menyiapkan visi misinya masing-masing. Bagi kandiddat yang visi misinya paling bagus, dialah yang berhak menjadi Ketua OSIS. Akupun segera menyiapkan visi misiku dengan segera. Tentunya, aku bukan hanya menyusun visi misi itu. Jika aku terpilih, aku harus membuktikan bahwa visi misiku itu NYATA, tanpa rekayasa.

Setelah membuat visi misi yang sedemikian rupa, kami harus berpidato didepan semua calon kandidat pengurus OSIS. Ternyata, Bu Anita, menilai bahwa pidatoku dan pidato Glennlah yang paling bagus. Makanya kami terpilih untuk mendapatkan jabatan tertinggi di OSIS. Nah, setelah peresmian selesai, kamipun resmi menjadi anggota pengurus OSIS. Awalnya sih, Glenn melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi, 3 minggu kemudian, ia mulai memperbudakku. Alasannya, ia terlalu sibuk dengan ekskul basketnyalah, ada pertandinganlah. Awalnya, aku percaya, kasihan padanya malah. Tapi, ternyata dia menipuku. Huh!, rasanya aku ingin membalasnya saja!. Tapi, bisa-bisa nanti dia mengadukannya kepada Kepala Sekolah.

Saking kesalnya padanya, sampai-sampai aku menendang kakinya kemarin. Begini ceritanya…
Kemarin, saat aku sedang membaca di perpustakaan bersama sahabarku Yurina, dia datang menghampiriku. “Heh, jangan lupa ya, buat undangan rapat pengurus OSIS!,” begitu katanya. Akupun langsung berdiri dari tempatku dan berkata, “Eh, harusnya yang membuat undangan rapat kan, Ketua. Bukan Wakil!!!!.”. Ia pun langsung tertawa licik dan berkata, “Kenapa?, Kamu kan, Wakilku. Jadi sudah semestinya aku menyuruhmu. Atau.. kamu mau aku melaporkannya pada Bu Anita?. Kalau itu yang kamu mau, O.K, aku akan melaporkannya.”. Akupun berteriak, “Iya, aku memang Wakilmu, Tapi kamu gak berhak buat memperlakukannku seperti robot atau babumu yang seenaknya bisa kamu perintah!!!. Aku juga punya perasaan!!!. Gak sepertimu!!!!.” Aku berteriak dengan sekuat tenaga. Sontak saja, semua orang di perpustakaan menengok ke arahku. Untung saja, Bu Grace, penjaga perpustakaan, sedang keluar. Kalau tidak, aku pasti dapat tabokan yang menyakitkan. “Ternyata, orang sepertimu juga punya perasaan ya?. Haha, aku baru tahu,deh,” balasnya licik. Tiba-tiba…

Dugggg!!!, aku menendang tulang keringnya sampai merah, ungu kehijauan malah. Diapun meringis kesakitan. “Dengar ya, aku itu bukan babumu, aku melakukan ini semua karena ini adalah tugasku. O.K, kalau itu maumu, aku akan melakukannya. Tapi ingat, aku bukan babumu,” aku berkata dengan tegas. Tanpa menunggu jawabannya akupun langsung meninggalkan perpustakaan dengan amarah yang membara.

Aku pikir, setelah kejadian kemarin, dia akan jera. Tetapi tidak rupanya. Huh, dia sungguh menyebalkan. Aku ingin mengadukan pada Bu Anita biar dia dipecat saja dari jabatannya itu. Tapi, aku kasihan juga sih kalau dia dipecat. Walaupun mengesalkan, tapi dalam setiap rapat pengurus OSIS, dia selalu mendapatkan ide cemerlang untuk menyelesaikan suatu masalah. Walaupun bebeda kelas, tapi aku tahu prestasi yang pernah diraihnya. Ya, waktu SD dulu, kami satu kelas selama 3 tahun. Mustahil, kan, kalau aku tak mengena karakternya. Tapi, ternyata Glenn yang dulu kukenal gak seperti Glenn yang kukenal sekarang. Glenn yang dulu itu baik dan perhatian, tak seperti sekarang, bengal dan cuek. Tapi, kecerdasannya masih sama, kok. Ya, dia punya segudang ide yang memuaskan.

Loh kok, tiba-tiba aku jadi terbayang-bayang padanya, ya?. Harusnya kamu berpikir donk, Lovi!, dia kan udah memperlakukanmu sebagai budaknya!, gumamku kesal dalam hati begitu aku ingat kalau aku yang dari tadi hanya memikirkan Glenn, si Ketua OSIS brengsek itu.

“Hei, Lovi!.” Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku yang sedang dudk di bus stop sambil mendengarkan lagu I Like You The Best, yang dinyanyikan ole B2ST (Beast) – salah satu boyban asal Korea Selatan—ini.
“Oh, kamu rupanya, Glenn.” Ternya orang itu adalah Glenn, si troblemaker, sekaligus Ketua OSIS brengsek itu. Kenapa dia ada disini, ya?, aku bertanya-tanya dalam hati.
“Mmm… Aku mau minta maaf gara-gara kejadian yang kemarin. Sekarang aku sadar, aku salah.” Katanya dengan perasaan yang sangaaat bersalah. Aku kira dia mau mengerjaiku seperti biasanya. Ternyata dia masih punya perasaan . Aku jadi makin curiga deh, jangan-jangan ini akal-akalannya saja.
“Serius, nih?.” Tanyaku memastikan.
“Gak, bercanda, kok. Serius lah!. Emangnya kamu gak liat wajahku yang seserius ini?.” Jawabnya bercanda sambil memegang kepalaku. Wah, ternyata benar dia meminta maaf padaku. Memang, sih masalah ini bukan sepenunya dia yang buat. Tapi, kan sudah selayaknya dia minta maaf.
“Gak lah, aku kan lagi sibuk dengerin lagu.” Jawabku lagi. Hehe, kali ini aku berbohong.
“Serius nih?, terus kenapa kamu tahu kalo aku yang datang?.” Tanyanya memastikan.
“Bohong. Kok. Tadi aku liat wajahmu… Hahaha… Ternyata orang sepertimu yang keras kepala ini, mudah ditipu, ya?.” Gumamku sambil mengejeknya. Gak nyangka, deh. Tadi, sebelum aku bicara seperti ini, dia percaya banget padaku.
“Apa kamu bilang?!. Aku tuh bukan orang yang terlalu polos kayak kamu. Yang bisa disuruh-suruh kyak babu. Tapi, gak rugi juga sih, aku nyuruh kamu. Seenggaknya, kerjaan aku beres tepat waktu.” Katanya lagi, ia membalas ejekanku.
“Yeee… enak aja!. Kan udah aku bilang jangan memperlakukanku seperti babu kamu.” Jawabku sambil memukul bahunya.
“Iya, deh. Sebagai cowok yang baik, aku ngalah deh, sama kamu.” Tampaknya, dia kesakitan. Tapi, dia juga mengalah. Tuh kan dia masih punya perasaan!. Aku menyesal deh, aku bilang dia brengsek. Ternyata dia orang yang baik juga. Habis, aku kesal juga sih, kalau dia terus memperlakukanku seperti babunya. Bisa-bisa, aku langsung melaporkannya pada Kepala Sekolah!.
“Huh, baik apanya. Kmu kan udah memperbudak aku. Mana bisa dibilang cowok baik!.” Kataku protes.
“Oooohh, Kayaknya iya juga sih, aku gak pantes dibilang cowok baik.” Katanya menyesal,“Bisnya udah datang, tuh. Mau pulang bareng?.” Lanjutnya sambil mengajakku pulang bersama dengannya.
“Iya…” Akupun menurutinya. Kamipun segera masuk ke dalam bis.
Kali ini, aku gak benci lagi pada Glenn. Aku malah suka sama dia sekarang. Glenn seperti ini, nih, yang aku inginkan!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s