Keheningan Putih

Pagi itu, semuanya putih berbalut keheningan pagi. Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Hembusan angin pagi tak bisa kurasakan karena tak tertembus oleh jendela yang tertutup. Tepat di sebelah tempat tidurku. Aku hanya bisa memandangi keseluruhan kamarku dengan kekosongan dalam mataku. Ingin rasanya kutangisi diriku karena hal ini terjadi padaku,…

28 Hari, jauh sebelum hari dimana hal ini terjadi. Tepat pada tanggal 28 September 2011. Seperti pagi hari yang sama, kulewati dengan bangun kesiangan sampai – sampai ibuku mengeluh mengenai ulahku yang satu ini. “ Ya ampunn naakk, kamu ini sudah berumur 16 tahun. Sudah cukup dewasa untuk tidak lagi bangun kesiangan..masa..”, keluh ibuku.
“ Stop..!! iya .. iya aku tau ma,.. masa anak gadis pemalas bagaimana jadinya kalau sudah dewasa?” , sela ku. “nah sekarang saatnya aku berangkat”. “Baik, hati – hati di jalan nak..!”, ucap ibuku sambil sedikit berteriak. Yah, ibuku memang orang yang khawatiran dari dulu. Apalagi aku adalah anak semata?wayangnya.

Nah, seperti inilah keseharianku. Setiap pagi dimana waktu menunjukkan pukul 6.00 WIB, setelah berangkat dari rumah, aku menjemput Rita. Rita adalah sahabat baikku, ia adalah murid pindahan dari kampung. Akan tetapi, lain dari yang lain , ia merupakan orang yang sangat mudah untuk berbaur dengan lingkungan yang baru walaupun biasanya orang dari daerah terpencil jarang sekali bisa beradaptasi di lingkungan perkotaan. Berbeda denganku yang walaupun aku sudah lama bersekolah di perkotaan, diriku sangat jauh dari sosialisasi, atau bisa dibilang antisosial. Di saat pertama kali ia pindah ke sekolahku, iapun ditempatkan di ruangan kelas yang sama juga denganku. Kupikir aku tak mungkin bisa berteman dengannya.

Yah, itu adalah cerita lama. Bagaimana aku bisa berteman baik dengannya dan tak terasa 2 tahun sudah, kulewati hariku dengannya, berbagi suka dan duka, berbagi cemilanku bersamanya dan yang paling penting yaitu aku berbagi hidupku denganya, dan dia berbagi hidupnya denganku. Ah, hal yang sangat indah dari persahabatan. Kuharap hal ini bisa terus terpatri dalam hidup kami kedepannya walaupun aku tau, suatu saat nanti mungkin kami berpisah dan tidak bisa melewati hari – hari yang indah bersamanya. Bertambah tua dimakan usia ataupun yang lebih buruknya dipisahkan oleh kematian.

“ Ahh,.. aku tidak boleh berpikiran buruk ! nantinya malah akan semakin buruk lagi!” ucapku dalam hati seraya ingin mengusir pikiran – pikiran buruk dalam otakku. Memang aku ini orang yang suka berpikiran buruk tentang suatu hal dan mungkin ini juga merupakan turunan dari ibuku yang selalu khawatiran orangnya.
Ohya aku sendiri belum memperkenalkan diriku, namaku Helena Wijaya Santoso. Hidupku memang standar seperti kebanyakan orang, seorang anak tunggal dari sepasang orang tua yang biasa saja. Kami tinggal di tengah perkotaan, yang sangat terkenal dengan hiruk pikuknya yang bergulir tanpa henti. Aku bersekolah di Sekolah Menengah Atas Mandratari 1, Jakarta selatan. Hidupku sampai saat ini biasa – biasa saja sampai saat dimana aku bertemu dengan Rita dan hari – hariku mulai menjadi luar biasa.
Ah, itu Rita. Setelah beberapa lama ku menunggu akhirnya ia datang juga ke pertigaan tempat biasa kami janjian. Rumahnya hanya berbeda gang dengan rumahku. Jadi, kami sepakat untuk pulang pergi bersama. Tapi entah kenapa saat melihatnya pagi itu, pikiran burukku mulai mengusikku lagi. Ia datang dengan wajah yang letih dan tubuh yang sedikit sempoyongan. Ku coba untuk menanyakannya.

“ Hai Rita..! “ sapaku .”Hai Helena..!” sambut Rita. “Apakah kamu baik-baik saja Rita ?”.” Aku baik – baik saja, … ah kau ini selalu saja mengkhawatirkan keadaan orang lain daripada keadaanmu sendiri”, jawab Rita dengan santai. “ Akuu hanya,..”, sanggahku. “Sudahlah kau hanya terlalu berprasangka buruk”, jawab Rita mencoba menenangkan pikiranku. “ Baikah,.. tapi jika ada sesuatuu…”.”Tidak mungkin,…!”, sela Rita cepat. “Baik aku percaya padamu, Rita”, ucapku lirih.

Setelah itu, kami bergegas untuk pergi ke sekolah. Seperti biasanya juga, setelah kami tiba, Rita langsung disambut oleh teman – teman yang lain. Bagaimana tidak!,..? ia dengan gayanya yang supel dan ceria, sangat disenangi oleh teman-teman yang lain. Aku pun semakin berpikir dalam hati, jika seandainya aku bisa menjadi dia mungkin hidupku terasa semakin indah. Hidup ini memang tidak adil !!. Tapi bagiku, Rita saja sudah cukup untuk mengisi diari hidupku dengan memori persahabatan kami.

Tiba – tiba saja, setelah kerumunan teman – teman yang lain mengerumutinya. Rita langsung pingsan. Semua terkejut, sebagian dari kerumunan tersebut memanggil guru untuk melaporkan keadaan Rita dan sebagian membantu membopong Rita ke unit kesehatan. Aku pun, mengikuti kerumuman yang membawa Rita dengan setengah berlari sambil menelepon keluarga Rita. Keluarga Rita yang kukenal hanyalah Ibunya saja yang berprofesi sebagai juru cuci harian. Sama sepertiku Rita adalah anak Tunggal, ayahnya telah lama meninggalkannya berdua dengan ibunya.

Kembali ke cerita, selesai ku beritahukan keadaan Rita kepada ibunya. Yang kebetulan saat itu ada di rumah. Ibunya langsung bergegas ke sekolah. Akupun tetap menemani Rita di unit kesehatan bersama kepala sekolah dan seorang perawat. Kondisi Rita pun semakin memburuk dengan panas tinggi disertai keringat yang bercucuran, perawat sekolah mengusulkan untuk membawa Rita ke rumah sakit. Ibu Rita yang baru sampai ke sekolah dengan napas yang terengah – engah pun setuju untuk membawa Rita ke rumah sakit. Kerumunan teman – teman Rita pun bubar begitu saja dengan mimik muka kesedihan terbesit di wajah mereka. Dan melanjutkan jam pelajaran yang telah mulai.

Bu kepala sekolahpun memintaku untuk tetap mengikuti pelajaran. Tapi, aku tetap bersikeras untuk tetap menemani Rita ke Rumah Sakit. Akupun sudah memberitahu kedua orang tuaku dan mendapatkan ijin dari mereka untuk menemani Rita. Kami memakai mobil sekolah menuju rumah sakit terdekat. Perawat sekolah yang mengemudikan mobil tersebut, kepala sekolah duduk disampingnya, sedangkan aku, ibunya Rita dan Rita duduk dibelakang. Di dalam mobil terus kugenggam tangan Rita yang mulai dingin. Satu hal yang kuharap, semoga tidak terjadi apa – apa dengan sahabat baikku.

Sesampainya di rumah sakit,…
“Cepat bawa tandu,..ada anak yang butuh pertolongan..!!” teriak ibu kepala sekolah. Beliau memang sangat “strict” terhadap murid- murid, tapi di saat seperti ini juga beliau sangat perhatian pada murid- muridnya dan tau apa yang harus dilakukan. Karena baginya murid – muridnya adalah anak – anaknya. Sebut saja untuk mengisi posisi anak kandungnya yang telah tiada, karena sakit kanker otak saat kecil.

“Baikkk,…!!”, sambut perawat yang bergegas membawa tandu keluar dari dalam rumah sakit. 2 Perawat memindahkan Rita ke atas tandu dan sisanya membantu memegangi tandu. Lalu, Rita dibawa ke unit darurat untuk diperiksa, aku dan kepala sekolah menunggu hasil pemerikasaan tersebut di ruang tunggu. “ Tenanglah Bu, Helena, Rita pasti akan baik – baik saja,…”, ucap kepala sekolah mencoba menenangkan pikiranku dan ibunya Rita.”Terima kasih Bu”, balas ibunya Rita dengan nada lemas. ”Ya,.. kuharap begitu,…”, balasku. Saat itu, pikiranku kacau sekali. Aku hanya bisa diam membeku di ruang tunggu tersebut. Ibunya Rita pun sangat khawatir dengan keadaan Rita.

30 Menit kemudian dokter yang memeriksa keluar ruangan. Akupun bergegas menanyakan keadaan Rita. “Bagaimana keadaan Rita dok?!, apa dia baik – baik saja?”, tanyaku cepat.”Tenang, kami berusaha semaksimal mungkin, kami sedang menguji hasil tes darah saudari Rita. Hingga saat ini, keadaannya masih belum stabil. Uji hasil tes darah pun, baru keluar hasil tesnya besok. Apakah anda keluarganya ?” , ucap dokter. “Saya Ibunya dok,…”,jawab Ibunya Rita. “Begini, untuk saat ini anak anda sedang kami periksa dan hasil akan keluar besok. Kami minta anda untuk tenang dulu. Anak anda akan kami pindahkan ke ruang perawatan sekarang. Kamipun akan tetap memantau kondisi anak anda sampai stabil kembali. Untuk saat ini, selain pihak keluarga kami menyarankan untuk tidak ada yang menjenguk anak anda dikarenakan kondisinya yang belum stabil.sehingga dibutuhkan ketenangan dan istirahat yang cukup. Anda sebaiknya kembali besok”, ucap dokter.

Kami bertiga pun kembali. Kepala sekolah mengantarku dan ibunya Rita pulang. Sesampainya di rumah, pikiran burukku terus menghantuiku. Membuatku sulit untuk tidur. Benakku berkecamuk malam itu, dalam ingatanku selama 2 tahun bersama Rita. Rita jarang sekali sakit ataupun pingsan secara mendadak. Walaupun Rita sakit karena panas atau batuk, tak pernah sekalipun terlintas pikiran buruk dalam diriku. Berbeda dengan hari ini, entah apa yang membuat pikiran buruk terlintas dalam sekejap saat bertemu Rita pagi ini…

Keesokan harinya,…
Untunglah hari ini libur. Aku bisa menemani ibunya Rita untuk menjenguk Rita di rumah sakit. Kedua orangtuaku pun ikut menjenguk Rita. Sesampainya disana, beruntung kami bertemu dengan dokter yang manangani Rita kemarin. “Dokter, kemarin anda kan yang menangani teman saya? Bagaimana keadaan teman saya?”, tanyaku. “Oh kamu yang kemarin, hasil tes sudah keluar dan hasilnya,…ehm”,jawab dokter ragu – ragu.”Tidak apa – apa dokter, kami disini semua keluarganya dan berhak mengetahui keadaan Rita”,ucap ibunya Rita. Mungkin beliau tau bahwa aku juga ingin mengetahui keadaan Rita. “Ya, saya berharap anda untuk kuat mendengar hal ini. Bahwa anak anda,..

to be continued,..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s