Kebahagiaan di Akhir Cerita

Dengan langkah malas aku berjalan ke koridor sekolah, melihat nilai ujian sekolah yang sudah tertera di papan informasi. Sebenarnya aku tak perlu melihat ini, toh nilaiku juga rendah.
Yaps! Tak meleset perkiraanku, nilai 55 tercantum di situ.
Kulihat nama Reyhan, pria yang kusukai, ia memperoleh nilai 100. Tak kisadari senyum terlukis di wajahku, bukannya sedih dengan nilaiku, aku malah senang jika Reyhan memperoleh nilai tinggi.

“Eh, senyum-senyum sendiri. Nilai lo 55, bahagia lo?” Tanya Killa temanku.
Aku menanggukan kepala, mungkin ia benar-benar anggap aku gila.
“minggu lalu 50, sekarang 55. Meningkat kan?” Kataku.
Aku langsung pergi menuju kelas, ada Reyhan.
Keringat dingin mengalir di wajahku.
“Hay Reyhan. Selamat, nilai kamu 100” kataku pelan
“Udah biasa dan makasih” Jawabannya cuek dan pergi begitu saja.
Cuek banget, pikirku!!

Jam pulang.
Aku menuju parkiran, ada Reyhan di sana. Senyum ini kembali mengembang. Aku pun menghampirinya.
“Reyhan, pulang bareng yok. Kita nonton dulu yuk, ada film enak loh hari ini” kataku semangat.
“Kia! Gue gak suka nonton” katanya
“Ah, anak sepertimu emang tidak suka seperti itu. Kalau begitu bagaimana jika ke toko buku”
“Kia! Apa lo gak sadar? Tindakan lo ini benar-benar bodoh tau gak? Oh ya, gue baru ingat, lo bodoh kan? Sana pergi lo ke toko buku sendiri, gue gak suka jalan sama orang bodoh kaya elo”
Aku benar-benar sakit. Aku ingin menangis, tapi aku tau aku kuat.

“Kak rey, gimana udah lama nunggui Mika? Maaf ya kak, Mika tadi ke ruang guru sebentar”
Gadis itu, siapa dia? Dia cantik, lesung pipinya dalam, hidung mancung, dan matanya besar, tinggi.

“Enggak kok Mik, kakak baru aja nunggu, kalau gitu ayo kita pergi” kata Reyhan sambil sinis denganku.

Aku benar-benar benci hal ini. Mereka meninggalkanku sendiri di parkiran ini. Kaki ini tak sanggup lagi berdiri, aku terjatuh. Tapi tidak pingsan seperti di sinetron. Tapi tangisan ini nyata!

Hujan turun aku masih di sini. Menikmati basahan air. Jam pukul 15:30. Aku masih di sekolah, toh kalau aku tetap di sini sampai malam tak mengapa, karena ku yatim piatu. Tante akan mengunjungiku 3 hari sekali.

Jam 18:25 aku, pulang dengan basah kuyup.
Rumah mewah ini sangat sepi. Karena aku sendiri, pembantu kusuruh berhenti karena aku malas bersama orang.
Badanku demam, ditambah kepikiran Reyhan. Kenapa aku harus mikirin orang yang membenciku?

Keesokan harinya aku tidak sekolah! Aku benar-benar sakit, tapi aku tetap belajar di rumah, walaupun aku tak mengerti tapi aku harus tetap belajar, aku mengikuti bimbel di mana mana. Sampai sampai aku berubah menjadi pendiam, gak care sama teman, yang kupentingkan aku harus berubah!!

Sampai pada akhirnya ulangan dimulai, dengan mudah kupelajari. Aku bahagia, nilaiku tertinggi, dan Reyhan nilainya 99.
Aku sedih, tentu saja. Yang kumau aku dan dia nilai 100.

“Kia! Si gadis bodoh ini berubh menjadi anak pintar” kata Reyhan di belakangku.
Aku memutar badanku, jantungku berdetak tidak normal. Aku bingung, yang biasanya aku caper, kini aku salting di depannya!

“Hanya kebetulan” kataku pelan.
“Ha? Kebetulan? Mana mungkin! Kecuali lo nyontek sama orang pintar. Tapi kan lo di kelas low, itu artinya isi kelas lo bodoh semua. Lo mau nyontek siapa? Gue yakin. Lo jadikan peristiwa di parkiran itu sebagai motivasi lo kan? Lo marah gue bilang bodoh, dan pada akhirnya lo berubah! Kia. Liat gue, lo gak perlu harus benar benar bersikap bodoh untuk nunjukin diri lo yang sebenarnya. Lo berubah karena gue kan? Lo suka kan sama gue?” Kata Reyhan panjang lebar. Aku benar benar grogi.
“Aku gak suka” aku benar benar gugup
Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku berpikir ini seperti dram Korea. Aku gugup.
Kini pikiranku gak meleset lagi, bibir kami bertemu. Ini tempat sepi, namun bisa menjadi ramai.
Reyhan mengangkat kepalanya.
“Lo gak suka sama gue?” Tanyanya lagi.

Aku langsung memeluknya dan menangis.
“Reyhan! Aku benci sama kamu. Aku bencii! Kamu selalu buat aku terus memikirknmu, kamu selalu ngasi soal tanpa jawaban yang kutau! Kamu selalu bersikap cuek sama aku, kamu selalu bikin jantungku berdetak lebih kuat. Aku benci sama kamu. Pelukan ini kueratkan, dan Reyhan membalas pelukanku.
“Maaf kia, aku cinta sama kamu, dari dulu. Aku gengsi”
Reyhan kembali melakukan adegan kiss padaku. Sungguh hari ini, aku bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s