Caramel

Rey lupa kalau dasinya terbawa oleh Pandu. Sialnya Pandu udah ngebut sama motornya. Ah! Bagaimana ini, jika dasinya tidak ada Rey akan kena hukuman saat upacara hari senin.

Rey berlari mengejar Pandu, semoga belum jauh. Karena jam pulang sekolah yang sudah tiba, banyak siswa-siswi yang berlalu lalang ingin pulang. Membuat Rey susah untuk berlari cepat. Tiba-tiba…
“BUG!”
Seseorang terjatuh tertabrak Rey. Ternyata siswi yang memakai hijab yang terbentur oleh Rey.
“Eh sorry, sorry. Gue gak sengaja.”
Cewek itu tidak apa-apa, tapi ia seperti mencari sesuatu.
“Tapi, novel punya gue…”
Rey segera mencari novel di sekitarnya. Tertemu! Rey mengambilnya, membaca sekilas judulnya.
“Moccacino.” batin rey. Dan, ia segera memberikannya, lalu meminta maaf.

Hujan langsung turun deras tiba-tiba. Membuat Rey mampir ke kedai yang berada di dekat sekolahnya. Itung-itung neduh sambil meminum kopi.
Ia duduk di kursi dekat dengan jendela, dan memesan kopi kesukaannya. Pesanan datang. Ia segera meminunnya sebelum kopinya dingin. Sesekali matanya melihat hujan lewat jendela, melihat orang yang baru saja memasuki kedai.
Tanpa sengaja, matanya melihat sesuatu yang ia kenal dari bangku pojok. Novel itu! Novel yang sedang dipegang seseorang dengan menutupi wajahnya. Novel yang dua hari yang lalu tidak sengaja ia jatuhkan.

Seorang cewek berseragam putih abu-abu mengenakan hijab. Apakah dia yang kemarin? Si pemilik novel yang tidak sengaja terbentur? Hari itu Rey tidak melihat wajahnya jelas. Rey terfokus oleh dasinya yang terbawa oleh Pandu. Dan, novel itu apakah dia?
Tapi, novel itu tidak hanya dimiliki oleh cewek yang kemarin, bukan?
Rey menepis jauh-jauh pikirannya tentang novel dan pemiliknya. Tapi Rey juga penasaran.
Rey kembali meminum kopinya. Nampaknya hujan di luar sudah reda. Cewek itu berjalan pergi meninggalkan kedai. Ah, sialnya Rey tidak melihat jelas wajahnya lagi.

Seusai shalat Dzuhur di masjid dekat sekolahnya ia segera memakai sepatu. Sambil tersenyum dan mengingat kejadian Edyta mengucapkan terimakasih kepada Rey karena telah memberitahu bukunya yang tertinggal di kelas. Edyta, cewek yang Rey kagumi diam-diam, tapi sayang Edyta sudah menjadi milik temannya.
Sambil terus memakai sepatu, matanya tertarik pada sneakers putih yang terjejer di rak. Pasti ini sepatu cewek, batin Rey. Sepanjang memakai sepatu matanya masih memperhatikan sneakers putih tersebut.

Rey mampir lagi ke kedai. Ternyata di situ ada Pandu. Anak pemilik kedai. Rey menghampiri Pandu. Mereka melakukan salaman ala mereka setiap bertemu.
“Tumben.” kata Pandu, mengisyaratkan Rey yang selalu mampir ke kedainya. “Iya, lagi mau istirahatin pikiran. Jadi ketua kelas ribet. Belum lagi tugas, anak-anak yang susah diatur!” jelas Rey.
“Eskul lo gimana, bro? Jadi ketua eskul enak nggak?”
“Pusing juga. Anggota lukis masih dikit. Gue sih berharap banyak yang minat dilukis.”
Rey cerita dengan muka sok-sokan capek. Tapi dia emang capek beneran.
“Ya udah, gue udah pesenin kopi kesukaan lo. Maccacino.” Rey menerimanya.

Keduanya menyeruput perlahan kopinya.
Lagi dan lagi. Sosok cewek di sudut kedai mencuri perhatiannya dan membuat ia kepo. Cewek itu masih dengan pose membaca buku seperti kemarin, menutupi wajahnya. Rey mencolek Pandu.
“Lo liat cewek di pojok sono gak? Itu siapa sih?” Pandu memperhatikan sebentar.
“Gak tau gue. Gak kenal. Gak pernah liat juga.”
“Siapa ya?”
“Tapi yang pasti sih, tadi gue denger dia mesen Moccacino.”
“Apa?!” Rey mengerutkan dahinya.
“Lo kenapa, men?”
“Nggak, gue aneh aja. Dia mesen kopi kesukaan gue juga.” Pandu mendorong pelan bahu Rey.
“Yang suka Mocca banyak kali, Rey.”
“Dan, yang lebih aneh, novel yang dia baca judulnya Moccacino!”
Pandu seperti tidak percaya. “Masa? Eh tapi simple sih, tandanya dia suka Moccacino. Gak usah histeris deh.”
Rey masih menerka-nerka dan masih sangat penasaran dengan cewek itu. Ya, si Moccacino.

Pandu dan Rey berjalan menuju Masjid untuk menunaikan shalat Dzuhur.
“Nanti lo promosiin eskul lukis ke temen-temen lo.” pinta Rey.
“Sip.”

Sesudah shalat Dzuhur, Rey segera memakai sepatunya. Tiba-tiba ia teringat si Moccacino. “Nanti gue mampir ke kedai lo, ya?”
“Yah, Rey. Hari ini mau tutup cepet, gue sekeluarga mau jenguk nenek gue, sakit. Makanya ini gue mau pamit duluan, ya?”
Pandu langsung pergi.
Rey mengangguk. Matanya tertuju pada sneaker putih di rak.
“Itu kan sepatu yang kemarin.”

Rey salut sama pemiliknya, siapapun itu. Ketika bel pulang dibunyikan semua sibuk untuk cepat-cepat pulang, karena memang bel pulang pas dengan adzan dzuhur, tapi tidak dengan pemilik sepatu itu, ia malah mendahulukan kewajibannya terlebih dahulu. Rey tersenyum ke arah sepatu itu. Dan, segera pergi.

Rey jadi jarang ngeliat si ‘Moccacino’ itu di sudut kedai. Biasanya ia di situ. Rey masih penasaran. Dan, akhir-akhir ini ia jadi sering melihat sneakers putih di rak masjid seusai shalat.
Rey lagi capek banget sama semuanya. Tugas yang gak pernah ada habisnya. Anak-anak yang susah diatur, eskul yang anggotannya masih sedikit.
Ia rebahkan tubuhnya di rumput taman, dibawah pohon yang rindang. Langit yang biru. Semoga cara ini bisa meminimalisir penatnya.
Angin yang berhembus membuat Rey ingin tertidur. Perlahan ia pejamkan matanya. Baru saja ingin tertidur, ada panggilan masuk dari hp Rey dan ia segera mengangkatnya. Dari Pandu.
“Oit?”
“Lo di mana? Tadi ada cewek nunjukin hasil lukisannya ke gue. Dia mohon-mohon biar masuk ke eskul lo. Gue bilang, gue bukan ketuanya, temen gue ketuanya.” suara Pandu di seberang sana.
“Ya udah, nanti lo ajak ke sini aja. Gue di taman biasa.”
“Oh, ya udah. Oke.”
Rey menutup teleponnya. Langit biru, angin sepai-sepoi, membuatnya mengantuk. Dan, akhirnya Rey tertidur pulas.

Rey merasa sedang ada gempa bumi. Ia membuka matanya sedikit demi sedikit. Pandu membangunkannya dengan mengoyak-oyak tubuh Rey.
“Eh!”
Rey bangkitkan tubuhnya. Nyawanya belum sepenuhnya kumpul.
“Edyta mana? Ah, dia jalan sama Gilang!” ucap Rey ngaco.
“Elo kenapa, sih? Mimpi, ya?”
Rey menepuk dahinya berulang-ulang.
“Cuma mimpi, sialan!”
“Tapi emang Edyta udah jadian sama Gilang. Udahlah, come on to move on. Jangan terus-terusan berharap, Rey.”
Rey merasa udah waktunya buat nggak ngarepin Edyta lagi.

“Cewek yang mau masuk eskul lo, tuh!”
Cewek itu menghampiri. Rey menoleh. Cewek tersenyum sambil menunjukan hasil lukisannya yang bergambar secangkir kopi.
Rey melihati cewek itu dari atas hingga bawah. Oh, tuhan! Novel yang dipegang itu, novel yang dibaca oleh cewek yang di kedai, bukan? Ah, iya!
Apalagi ini? Sepatu. Sepatu yang ia kenakan sekarang. Sepatu yang sering ia lihat dimasjid usai shalat. Beneran itu sepatunya.

Rey kembali melihat wajah cewek itu. Ia tersenyum. Sesekali nyengir memperlihatkan kawat giginya. Ah, manis.
“Gue mau masuk eskul lo. Gimana lukisan gue?” dia berbicara kepada Rey.
“Oke, bagus kok. Eskul hari senin sama kamis.” Rey berbicara agak sedikit gugup. Rey melihat cewek ini seperti melihat Ashilla Zee vesi hijab.
“Lo anak kelas?”
“Sebelas Bahasa.”
“Kok gue gak pernah li…”
“Iya, tadinya gue di Ipa, karena Bahasa peminatan baru, gue pindah.”
“Kenapa?”
“Karena, gue rasa di Bahasa ada jalan menuju cita-cita gue.”
Rey melihat novelnya. Ah, cita-citanya pasti mau jadi penulis. Tapi, kenapa bicaranya mirip Ashilla Zee juga.
“Terus nama lo?”
“Caramel.”
“Hah?”
“Ya, Caramel. And, I like Moccacino.”

Ah, benar! Ini cewek yang tidak sengaja terbentur oleh Rey waktu kejadian dasi itu. Semoga ia tak ingat!
Ada suara panggilan masuk dari hp Pandu. Setelah diangkat ternyata dari Ibunya untuk segera kekedai untuk membantu melayani. Pandu pamit kepada Rey dan Caramel.
Rey jadi penasaran banget sama cewek ini. Setelah melihat sepatu yang dikenakan Caramel, ia mengingat sepatu yang berada di rak masjid. Dan, ketika tahu siapa pemiliknya, Rey jadi fall’ in love for the first time meet. Now.

Rey mengajak Caramel berjalan-jalan sekitar taman. “Alesan lo lukis gambar kopi itu, apa?”
“Ini Moccacino sebenernya. Gue suka aja sama kopi. Dari kopi lo bisa belajar ngga selamanya hidup lo pait. Buat jadi manis kadang lo harus ngasih sesuatu di kehidupan lo biar jadi manis; gula.”
Rey ngerti sekarang, kenapa sewaktu dikedai ia memesan Moccacino, novelnya juga, bahkan lukisannya.
“Tapi kalo hidup lo gaselamanya manis, gue sih lebih banyak deketin diri sama yang maha kuasa.”
Rey berfikir lagi, mungkin ini alasan sang sepatu itu selalu ada di rak.
‘Gila nih cewek dari ngomongnya aja udah puitis banget’ batin Rey.

“Rey?” panggil Caramel. Rey yang sedari tadi diam saja.
“Lo tau nama gue?”
“Ya taulah. Reynaldi Adiyoda, sebelas sosial, ketua kelas?”
“Lo kepoin gue?”
“Nggak, Rey. Tadi temen lo ngasih tau gue.”

Rey kege’eran. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rey mengajak Caramel duduk di kursi yang belakangnya air mancur. Caramel lagi sibuk balas chat sepertinya, sesekali ia selfie, dan mengajak Rey untuk selfie besamanya.
Ternyata Caramel bukan cewek yang cuek dan dingin. Rey jadi senyum-senyum sendiri. Caramel sibuk berselfie. Rey menulis sesuatu di kertas, kemudian diberikannya pada Caramel.

“Buat gue?”
Caramel mambacanya dalam hati.
“I fall in love with you, sejak pertama kali kita ketemu. Waktu novel lo jatuh. Kedai kopi. Sepatu di rak masjid. Walupun hari itu gue galiat jelas lo, dan sekarang gue bisa liat lo secara jelas.”

The end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s