Bukan Benci Tapi Takut

Aku tetap menahan kakiku untuk tetap berdiri di depan pintu kelas. Fikiranku berputar-putar dari itu ke itu saja. Aku merasa gelisah setelah rombongan teman-temanku mengatakan bahwa aku berhasil menjuarai lomba bernyanyi tingkat kabupaten dan akan segera dikirim ke tingkat provinsi. Perasaanku was-was teringat pesan-pesan ayah padaku.
“Jangan bernyanyi lagi! Jika masih bernyanyi ayah sumbat mulutmu pake sendal untuk ke sawah itu.”

Dari kecil memang aku selalu dilarang oleh ayah untuk bernyanyi, ayah selalu menakut-nakutiku dengan hal yang aneh-aneh jika ia mendengarku menyanyikan sebuah lagu.
“Sudah ayah bilang, kalau hantu suka sekali mengikuti orang yang suka menyanyi karena ia menganggap orang itu temannya.”

Aku selalu takut mendengar kata-kata aneh yang dilontarkan ayah, namun tak bisa kupungkiri aku sangat suka menyanyi hingga tanpa sepengetahuan ayah, aku menyanggupi amanah dari guruku untuk mewakili sekolah mengikuti lomba bernyanyi tingkat kabupaten. Tanpa harus diminta, aku mendadak berhasil mengharumkan nama sekolah sehingga semua guru menebarkan senyuman terindahnya setiap mereka melihatku. Namun, mataku layu memandangi mereka semua. Aku takut sebentar lagi langit akan segera runtuh dan menghimpitku. Apalah dayaku untuk bertahan dan tetap berdiri tegak jika ditimpa benda seberat itu. Tak terbayang ayah akan segera memarahiku, menampar pipiku yang mungil. Senyumku tertahan saat aku berusaha untuk membukanya. Aku sama sekali tidak bangga pada diriku sendiri, melainkan menyesal telah melanggar janjiku pada ayah.

“Kamu janji tak bernyanyi lagi kan?”
“Iya aku janji ayah.”
Pernyataanku waktu itu membuat aku merasa dihantui sepanjang waktu, jika ayah sampai tahu apa yang telah aku lakukan, dia pasti marah besar padaku.

Aku berusaha menutupi semua ketakutanku, namun percuma tubuhku terasa lemas untuk menutupinya. Tanpa kusadari ternyata dari awal aku berdiri di sini ada sepasang mata yang memperhatikan kegelisahanku, aku baru menyadarinya setelah sepasang mataku bertemu dengan matanya. Mataku membesar karena kaget yang tak tersembunyikan. Ia mulai bergerak, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah sedikit demi sedikit ke arahku. Aku berdebar dan menyembunyikan kedua tanganku ke belakang karena jari-jariku tak bisa berhenti menari. Entah gerogi, entah takut, yang jelas aku tak kuasa berdiri di depannya. Ia sudah tepat di depanku dan memberikan senyumannya padaku.

“Kamu sakit Nel? Kok pucat?” tanyanya penuh perhatian, tak kusangka ia akan sebaik ini padaku. Aku berusaha untuk senyum dan menjawab pertanyaannya walau agak terbata-bata. Namun, dari matanya seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang aku katakan, seperti ia tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku tertunduk lemas dan berusaha mengakhiri percakapanku dengannya.

Dia adalah sosok yang kukagumi semenjak aku melangkahkan kaki ke SMA ini, tepatnya satu tahun yang lalu. Hari ini adalah hari pertama aku berbicara dengannya karena selama ini aku tak pernah menyempatkan diri untuk menyapa atau berbicara padanya. Bukan karena sibuk namun karena sedikit gerogi.

Perasaanku yang seharusnya senang lenyap dilahap oleh rasa takut. Aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Inginku mengatakan pada guru-guruku bahwa aku tak bisa mengikuti lomba itu ke tingkat provinsi, tapi kutakut akan banyak yang kecewa padaku. Tapi, kalau aku tetap mengikutinya, ayah yang akan kecewa. Aku tak bisa memilih di antara keduanya. Ingin ayah kecewa atau semua guru dan teman-temanku kecewa? Pilihan yang sangat sulit bagiku. Meskipun ayah cuma seorang namun ia adalah sosok yang berharga bagiku. Sosok yang selalu menjagaku dari aku belum mengetahui apa-apa hingga aku sudah besar seperti ini. Ia selalu melindungiku semenjak ibu pergi meninggalkan kami berdua. Pergi jauh hingga kami takkan mungkin lagi bertemu dengannya, pergi untuk selama-lamanya. Semenjak aku masih berumur dua tahun. Semenjak itu pula aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, hanya ayah yang setia menjaga dan selalu bersamaku. Ayah tak menikah lagi karena ia ingin aku beribu tiri, tak ingin hatiku terluka nantinya. Namun, akhirnya aku tetap merasakan betapa terlukanya hatiku, betapa sedihnya aku sebab ayah melarangku melakukan hobiku, bakatku, dan aku sangat kecewa karena itu. Ayah tak pernah mengatakan alasan kenapa dia melarangku menyanyi. Kenapa ia benci dengan nyanyian. Ia tak pernah menjawabnya saat aku tanyakan. Aku ingin mengatakan pada ayah bahwa aku juga ingin seperti teman-temanku yang orangtuanya selalu memberi dukungan untuk mengembangkan bakat anak-anaknya, tidak seperti aku yang selalu dipatahkan.

Aku sengaja melangkah kecil-kecil menyusuri jalan ke rumah. Aku ingin berlama-lama di jalan karna tak sanggup berbicara pada ayah ataupun minta izin padanya. Selama di perjalanan aku berusaha melawan fikiranku untuk menuruti nasihat ayah. Aku mencoba menetapkan hati dalam sebuah pilihanku untuk tetap ikut dalam lomba itu. Aku sangat berharap bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan itu pada ayah.

Setibanya di rumah ternyata ayah sudah menungguku di depan rumah, aku menundukkan kepalaku saat sudah berdiri tepat di hadapannya. Ia menepuk kedua pundakku dengan kedua tangannya. Ia memandangiku penuh rasa sayang.
“Nel, ayah dengar kamu menang lomba bernyanyi tingkat kabupaten.”
Aku tersentak kaget mendengar kata ayah, tak kusangka ia mengetahuinya sebelum aku sempat berbicara sepatah kata pun padanya. Aku memandanginya dengan rasa sesal. Air mataku yang tertahan mulai menetes dengan deras.
“Ayah tahu dari mana?” tanyaku terisak.
“Teman-temanmu Nel,”

Ia berjalan memasuki rumah dan aku mengikutinya dari belakang.
“Ayah, Inel minta maaf,”
“Nel, dengarkan ayah baik-baik. Kamu tahu kenapa ayah melarangmu bernyanyi?”
“Karena ayah tak suka mendengar nyanyian.”
“Bukan Nel, bukan itu,” ayah mulai membantah kata-kataku.
“Ayah tak ingin kamu seperti ibumu Nel.”
“Seperti ibu? apa maksud ayah?”
“Nel, ibumu seorang penyanyi. Dia cantik dan lemah lembut. Tak bisa disalahkan jika sifatnya turun kepadamu Nel.”
“Lalu kenapa ayah melarangku bernyanyi?”
“Itu alasan ayah. Banyak orang yang menyukai ibumu. Ayah takut itu akan terjadi pada dirimu Nel.”
“Apa hubungannya ayah?”
“Tentu ada hubungannya, banyak yang suka pada ibumu tak terkecuali laki-laki yang sudah punya istri, ada orang yang sakit hati karena suaminya jatuh hati pada ibumu.”
“Lalu?” tanyaku penasaran.
“Ibumu dibunuh.”

Aku memandangi ayah yang tak kuasa lagi menahan air matanya.
Sekarang aku mengerti kenapa ayah melarangku bernyanyi. Terkadang hal yang kita benci, sebenarnya baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya, hal yang kita suka belum tentu baik untuk kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s