Aku Sudah Mati ?

Lia Widyawati Herlambang, begitulah nama panjang gadis berusia 18 tahun yang tengah berkuliah semester 2 ini. Ia mempunyai wajah cantik, berambut lurus sebahu dengan poni se-alis ala dora the explorer, berkulit putih dan anggun, dengan badan tinggi semampai ala Widy sang vokalis dari band vierra. Lia adalah seorang anak semata wayang dari sebuah keluarga yang dari segi ekonominya memang serba berkecukupan. Mungkin karena itulah ia selalu dimanjakan dan hampir semua keinginannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya sehingga ia menjadi anak yang manja, boros, malas, dan kegiatannya sehari-hari hanya dipenuhi dengan bermain, jalan-jalan, berbelanja, dan pokoknya ia hanya memikirkan bersenang-senang dengan teman-temannya, akibatnya dia sama sekali tidak fokus pada perkuliahannya.

Tere, gadis keturunan Indo-Perancis ini mempunyai seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki. Mempunyai badan yang tidak jauh berbeda dengan Lia. Namun lebih berisi atau lebih montok. Di antara teman-teman yang lain, Lia paling sering berkomunikasi dengan Tere. Karena selera mereka dalam beberapa hal banyak yang sama. Misalnya dalam hal musik, kedua gadis cantik ini sangat menyukai musik blues, slow rock, dan musik yang kental dengan orkestra dan harmonie-harmonie dari berbagai instrumen musik seperti sang maestro semi tuna rungu, bethoven. Tapi Lia, Tere, Sylvia dan Uje apabila direlasikan, penyanyi yang mereka sukai adalah Avril Lavigne. Penyanyi yang lagu-lagunya tak pernah absen dari playlist mereka jika sedang berkumpul.

Sylvia, gadis berkulit kuning langsat ini berasal dari tanah Kalimantan. Semenjak berkuliah, ia tinggal bersama bibi dan pamannya. Sylvia mempunyai satu orang kakak laki-laki yang sudah menikah. Lalu Uje, gadis yang bertubuh lumayan gemuk ala Oky Lukman ini juga mempunyai kakak laki-laki yang sudah berkeluarga.

Selasa, jam 6.30 pagi.
Seperti biasa, Lia bangun dari tidur di saat semua penghuni rumah sudah tidak ada, sudah berangkat untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Ayahnya sudah berangkat sebelum fajar untuk bekerja di sebuah perusahaan yang ia pimpin karena hari itu ia harus memimpin sebuah rapat direksi. Dan sering kali ke luar kota karena urusan pekerjaannya tersebut. Ibunya juga adalah seorang wanita karir. Ia mempunyai sebuah boutique dengan fokus fashion Paris. Selain dari itu, ia sama seperti ibu-ibu rumah tangga perkotaan pada umumnya, setiap minggunya mengikuti arisan dengan ibu-ibu yang sekompleks dan berolahraga di tempat gym supaya tetap terlihat cantik di depan ibu-ibu arisan yang lain. Dan pagi itu, ibunya sudah berangkat untuk melakukan rutinitas berolahraga di tempat gym yang biasa ia datangi, bahkan ia sudah menjadi member selama 2 tahun di sana. Karena kesibukan orang tuanya tersebut, maka tidak heran kalau pagi-pagi saat Lia bangun tidur, sudah tidak ada orang di rumah kecuali pembantu rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarga itu selama 10 tahun semenjak Lia duduk d kelas 3 sekolah dasar.

“Hmmmmmm… hoaaaaammmmmhhh…. bi… bibi…. !!” Suara Lia yang baru bangun tidur memanggil-manggil bi Iyem, pembantunya. “Aduh Yem, mana handuk gue cepetaaaan!” sentak Lia kepada pembantunya yang masih jauh berlari mendekatinya. “Iya Non!”. Iyem lalu membuka pintu kamar Lia dan memberikan selembar handuk berwarna hijau polos kepada majikannya yang tengah terduduk di tepi tempat tidur dengan mata yang masih sayup itu. Lia pun bergegas membersihkan dan mempercantik diri. Cardigan cokelat tipis dan jeans hitam serta sepatu kets berleher agak panjang menjadi pilihan penampilannya pagi itu.

Menyiapkan sarapan sudah menjadi kegiatan rutin bi Iyem setiap pagi di kediaman keluarga itu. Di tengah ruangan itu, sebuah ruang makan berukuran 5×6 terdapat sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan permukaan kaca bening dan dikelilingi enam buah kursi kayu warna cokelat. Di dua sisi meja itu, masing-masig berdiri dua pasang kursi yang saling berhadapan dan berseberangan. Di dua sisi lainnya, berdiri masing-masing satu kursi yang berseberangan dan saling berhadapan. Salah satu kursi tersebut menjadi kursi singgasana ayahnya untuk bersantap di rumah. Ibunya selalu menempati kursi di sisi meja di sebelah kanan sang ayah. Dan Lia, sang tuan putri selalu duduk berhadapan di seberang sang ratu hingga posisi duduk mereka membentuk seegitiga sama kaki. Pagi itu, kursi-kursi kebesaran mereka kosong tak bertahta. Lia menuruni tangga yang meliuk yang menghubungkan lantai dua di mana kamarnya berada dengan lantai dasar yang terdapat ruang tamu dan ruang makan untuk sarapan. Di tengah tangga Ia sudah bisa melihat ke bawah, terlihat meja makan persegi panjang itu tidak ada yang menjamahi. Hanya terlihat piring-piring yang dihiasi dengan noda minyak dan ada sedikit nasi dan sayur yang tersisa. “Bi…. itu piring-piring bekas mama papa ko belum diberesin sih?! Gue gak bisa makan kalo tempatnya kotor dan berantakan kaya gitu!” Teriak Lia yang baru saja menuruni tangga. Bi Iyem yang tengah berada di dapur itu pun segera menghampiri majikannya dengan wajah tertunduk tak berani menatap gadis yang di dalam pikirannya cantik nan galak itu. “I.. iya non, maaf. Bibi –…“. “Ah lo, kantin di kampus gua aja bisa lebih bersih dari ini, gimana sih lo! Buruan beresin!”. Sebelum bi Iyem menyelesaikan pembelaan dirinya, Lia langsung membentakinya lagi. “Iya, Non. Sebentar bibi beresin dulu”. Iyem menjawab dengan wajah masih tertunduk. “ Abis itu siapin sarapan gue ya!”. “Iya, Non”. Jawab Iyem lagi sambil membereskan meja yang membuatnya dimarahi pagi itu.

And my hair, will shine like the sea
And everyone, will wanna look, just like me
Cause I’m young, and I’m hip, and so beautiful
I’m gonna be a supermodel
I’m young,and I’m hip, so beautiful
I’m gonna be a supermodel
Lagu I wanna be a supermodel-nya Avril Lavigne mengalun dari tape mobil Alphard warna merahnya yang tengah Ia kendarai menuju kampus itu.

Tiba-tiba Samsung Galaxy miliknya berbunyi. Panggilan itupun diangkat. Sebelum ia membuka mulutnya, tiba-tiba saja dengan nada yang sedikit menyentak, keluar suara dari ujung telepon sana “Lia! Babydoll dodol! Di mana lo? Masih di rumah? Mandi belum? Mau bolos kuliah lagi lu yah?!” Merasa terganggu dengan nada bicara orang yang menelepon itu, Lia pun menjauhkan hp dari telinganya, memalingkan pandangan dari jalanan ke layar hp yang sedang dipegangnya di tangan kanan sementara tangan kiri mengendalikan stir mobil. “Gogirls Tere” itulah nama kontak yang ia lihat di layar hp. Kembali ia mengalihkan pandangannya ke jalanan, mendekatkankan kembali hp ke telinganya, lalu melanjutkan permbicaraan. “Anjrit lo ya..! Gue lagi di mobil nih, nyantai aja kali.. kaya baru kali ini aja gua telat..haha”. “Please deh Liaaa, pagi ini kan ada ulangannya si Baskoro, dosen jadul yang bisanya cuma ceramah doang, dia kan pelit banget ngasih nilai. Kalo lu telat, lu ga bisa nyontek. Kalo lu ga bisa nyontek, nilai lu seratus koma sejuta persen pasti jelek. Lu kan ga pernah belajar, dodol..” “Sialan lu! Hmm bookingin kursi aman buat gua dong, deket kalian yah biar bisa callingan jawaban.. gue pasti dateng, mau tancep gas nih, see you bebi muachh, daaaah”. Tanpa memutuskan koneksi telepon, Lia sentak melemparkan hp ke kursi di sebelah kirinya. Memegang stir dengan kedua tangan, lalu menginjak gas mobil bergigi otomatis itu lebih dalam. Ia ngebut. Mobil merah itu melaju dengan kecepatan tinggi, memecah jalanan beraspal dengan warnanya yang terang. Warung-warung, toko-toko, rumah-rumah, gedung-gedung tinggi terlihat hanya sepersekian detik saja oleh matanya. Muncul tiba-tiba di depan di ujung jalan, sekejap menghilang di sudut matanya. Begitu juga dengan beberapa mobil yang sempat ia salip. Pikirannya hanya tertuju pada gerbang kampus, ruang kelas, kursi kosong di dekat teman-temannya, mengisi lembar jawaban, dan melewati kuliah hari ini.

Jarum berwarna merah di speedometer itu tak sempat menurun hingga ke titik kecepatan yang aman ketika akan melewati sebuah tikungan. Panik, ban mobil itu melaju terlalu dekat dengan trotoar. “Aaaaa! Aah! Awaas…!” Spontan ia berteriak-teriak dan menekan-nekan klakson untuk memperingati seorang pedagang buah yang dilihatnya tengah berjalan di sepanjang bahu jalan itu.

Mobil itu terhenti setelah sebelumnya menyerempet pedagang buah dan tertahan oleh undakan yang merupakan batas trotoar. Sepi, tak ada objek bergerak selain daun-daun yang bergoyang tertiup angin dan lampu-lampu digital pada tape mobil yang masih melantunkan playlistnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Tak apa-apa, tidak ada masalah. Begitulah yang terbersit dalam pikiran gadis itu setelah berhasil menghidupkan mesin mobil yang sempat mati. Namun tiba-tiba di antara suara erangan mesin mobil, sayup terdengar suara erangan kesakitan seseorang dari arah belakang mobil itu. Deggg! Seperti ada yang memukul dadanya dengan telak. Tubuhnya menegang. Dengan sedikit keberanian, perlahan ia bergeser ke kursi sebelah kiri dan kedua bola matanya tertuju pada spion kiri mobil. Degg! Telak, kembali terasa seperti pukulan kedua tepat mengenai dadanya. Sesak. Perlahan keringat dingin mengucur dari kening, leher dan punggungnya. Bagai anak kecil yang tak mau dihukum karena memecahkan kaca jendela tetangganya, Ia sembunyi tangan dan lari. Dengan segera Lia duduk ke tempat semula, memegang stir, memasukkan gigi, menginjak gas tanpa mau lagi peduli, mengingat ataupun mengalami hal seperti tadi lagi.

Kampus, Jam 8:15
Di depan pintu kelas, napasnya terengah-engah. Sejenak ia menundukkan badan dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lutut kakinya hingga setengah berdiri. Perlahan, ia berdiri. Dipegangnya gagang pintu itu, ia dorong perlahan. Sambil sedikit mengintip, perlahan daun pintu kayu persegi panjang dengan warna cokelat kekuning-kuningan itu terbuka. “Emm permisi Pak, selamat pagi. Maaf…. tadi… saya -…..” Dosen berkumis tipis dengan rambut disisir rapi ala orang nomer satu di Indonesia ini langsung memotong pembelaan diri Mahasiswanya yang terlambat itu. “Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu” kata dosen itu dengan nada datar dan masih fokus dengan buku di tangannya. Teman-temannya memandang lirih. “Ehh… emmmm” Lia hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Menahan kesal, gadis yang apes itu kembali keluar dan menutup pintu. Di belakang pintu, dia menggerutu sendiri. Anjing! Monyet! Dosen geblek! Gedeg banget gua sama tu dosen, sialan! Bagai sakura yang gugur tersundut hangatnya solar mentari, kata-kata menyundut telinga itu meluncur deras dalam benaknya. Sambil mengepalkan kedua telapak tangan dengan gemasnya ia bersiap memasang kuda-kuda seperti hendak menggedor, menerobos pintu, lalu mendaratkan kepalan tangan halusnya di muka sang Dosen. Namun masih terlalu jauh tindakan itu baginya. Terlalu kurang ajar dan tidak bermoral bagi seorang Lia Widyawati Herlambang untuk melakukan hal itu. Sabar, ia mengetuk pintu. 3 ketukan dalam 2 detik. Perlahan ia menarik tuas pintu itu kembali. Satu, dua bola matanya menjelajah tiap sudut kelas. Semua mahasiswa tertegun serius mengerjakan soal ulangan. Tapi Tere, Via dan Uje tertegun simpatik setiap kali Lia melihat ke arah mereka karena tidak bisa berbuat apa-apa. Kali ini, ia menemukan pak Baskoro sedang duduk di kursinya.

“Selamat pagi Pak. Maaf saya terlambat, tadi ada masalah dengan mobil saya”
“Hmm iya, iya. Anda boleh keluar…”
“mmm-maaf Pak?”
“Bagian mana dari kalimat saya yang tidak Anda mengerti?”
“Tapi Pak……saya kan sudah mengetuk pintu seperti yang Bapak suruh”
“Tentu, sudah sewajarnya saya mengajarkan etika itu kepada anak didik saya, atau siapapun yang tidak tahu. Tapi, mengetuk pintu tidak akan mengembalikan waktu dan menggantikan keterlambatan Anda.” Ujar baskoro sambil melihat jam tangannya mempertegas.

Hening. Teman-temannya hanya tertunduk lirih, tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa yang lain. Konsentrasi mereka mengerjakan soal sungguh tidak terjaga lagi. Namun kali ini sedikit berbeda. Ada rasa lain yang tercampur setelah pukulan itu. Bukan hanya rasa kaget, takut dan rasa bersalah. Tapi ada suatu rasa lain yang membuatnya ingin membalikkan pukulan tersebut. Ada suatu dendam di sana. Memang sesuatu yang kecil dan wajar. Tapi ia tidak menerima itu. Ia dipermalukan. Tensinya naik dengan cepat. Mengingat kejadian yang dialaminya mulai dari rumah hingga tiba di sini. Lia, ia tertunduk dan membuang muka ke arah tembok. Layaknya paskibra amatiran, dengan cepat ia berbalik. Tas tangan warna merah batanya terayun kencang seiring hentakan badannya. Dengan hati dan mata yang panas, ia menelusuri koridor kampus tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, ke pintu cokelat kekuning-kuningan itu.

Sebuah APV silver terparkir di samping sebuah escudo hitam hasil modifikasi dengan sasis rendah. Seorang mahasiswa mengendap-endap di antara kedua mobil itu. Di antara lalu lalang para penghuni kampus siang itu, ia terlihat sedang mengerjakan sesuatu. Seorang gadis berambut sebahu dengan poni, Lia. Ia berjongkok di sana. Mencoba untuk membuka tutup pentil salah satu mobil. Setelah ia memastikan bahwa ia telah dengan rapi megempeskan dua ban belakang APV silver itu, buru-buru ia menjauh. Hahaha.. Cuh! Rasain lo! Lain kali gua pecahin kaca mobil lo sekalian! Baskoro setan!. Benaknya puas.

Hari ini, solar mentari menyengat aspal Jakarta. “Whooa Lia.. gila, haha temen kita ini udah gila! Hahaha” teriak Sylvia heboh—setelah Lia menceritakan kejailannya di kampus tadi—yang disambut senyum kecut Lia di sebelahnya yang sedang menyetir. “Iyah lo.. berani banget.. ga takut disambet jin peliharaannya si Baskoro nih anak” Sambut Tere yang duduk di bangku belakang. “Ga akan mempan kali Ter.. yang ada jinnya naksir sama si Lia noh haha” celetuk Uje yang duduk di sebelahnya. “Sialan lo! Hahaha”. Tawa mereka pun meletus. “Eh gua gerah banget nih” ujar Sylvia. “Iya, Jakarta makin panas aja” sambut Uje sambil mengelap peluh di dahinya. “Berenang aja yuk!” ajak Lia yang disahut oleh teman-temannya hampir bersama-sama “Yuuu”.

Siang itu, jam 13.20— kolam renang.
“Rumah lu ko sepi sepi-sepi aja, jarang banget gua liat ortu lu.”
“Lagi kerja..”
“Oh iya yah. Eh, tapi kan gua sering juga male-malem maen ke sini.. Tetep jarang gua ngeliat.”
“Sering lembur..”
“Oh jadi—….”
“Udah deh Ter.. jangan ngomongin ortulah.. males gue.”
“Sorry… tapi lu ma ortu lu baik-baik aja kan?”
“…..”
“Lia?”
“….”
“Hmmm Lia, sesibuk apapun mereka. Gua yakin mereka tetep—…”
“Aaaaah bullshit! Gua udah sering denger kata-kata itu Ter… ga ada orang tua yang ga sayang anaknya.. tapi, ortu gue itu PENGECUALIAN! Percuma gue berbakti, percuma gue… percuma gue idup! Karena gue yakin Ter.. gue yakin mereka sama sekali ga ngarepin gue ada!” Matanya mulai panas, ada setitik air mengucur sampai pipinya. “Dan GUE BENCI MEREKA!”
Lia langsung berlari ke tepi kolam meninggalkan Tere, menyusul Sylvia dan Uje yang sudah lebih dulu berada di dalam air. Namun, “Aaaah!” Dukk! Ia terpeleset tepat di pinggir kolam dengan posisi terlentang dan kepalanya terbentur sangat keras sesaat sebelum tubuhnya jatuh ke air lalu membisu. Sontak. “Liaa!” “Aaaaaah!” Air kolam di sekitar tubuh Lia bercampur darah.
“Tiit tit tiiiiiiiiiiit… !!”
“Tiit tit tiiiiiiiiiiit… !!”
Jam waker di kamar Lia berdering. Seperti biasa, jam berwarna merah muda dengan bundaran dan jarum jam terdapat pada perut, berkepala kucing dengan goretan wajahnya yang tersenyum, kaki lebar dan pendeknya untuk menopang, ekornya yang agak panjang dan tegak lurus ke atas itu berdering. Memang jam itu sudah sengaja distel otomatis untuk berdering setiap hari pukul 6.30 pagi.

Lia membuka mata. Dingin. Ada hawa yang sangat dingin merasuk menusuk ke tubuhnya menyeluruh. Ia tidak merasa seperti baru terbangun dari tidur semalam. Badannya terasa sangat ringan, kepalanya tidak pusing. Beranjak dari tempat tidur. Ia melihat kalender yang menujukkan hari sama, namun tanggal dan bulan yang berbeda. Selasa, 5 April. Berarti, aku sudah tertidur selama satu minggu. Benaknya teringat kepada teman-temannya. Kejadian itu, kolam, kemarahannya, lantai yang licin. Aku sudah sembuh.Namun ada sesuatu yang terasa mengganjal sekali d hatinya. Apa ini. Kenapa. Aneh. “Bi… bibi..!” Lia memanggil dengan suara agak lemah. Tidak ada jawaban di sana. Ia pun keluar. Berharap menemukan seseorang yang dapat diajak bicara. Menemukan penjelasan apa saja yang terjadi selama ia tertidur. Ah kecewa. Setiap sudut rumah telah ia telusuri. Kosong. Kenapa di saat seperti ini…. Ia membuka pintu depan rumahnya. Ah… sinar itu terasa begitu menusuk matanya. Namun tetap ia merasa dingin. Walaupun terlalu menusuk, ada rasa yang membuatnya untuk tetap berjalan keluar. Rasa yang kuat menemukan penjelasan.

Ia berjalan dan terus berjalan. Banyak orang yang ia lihat di jalan. Namun tak ada yang mengacuhkan dirinya. Aku memang belum mandi… pikirnya. Tiba-tiba sebuah senyum terukir bibirnya. Ia melihat dari kejauhan seorang anak perempuan bersama ibunya. Ia begitu lucu, ceria, mengingatkannya sewaktu masih kecil. Anak itu berlari-lari mengelilingi ibunya yang sedang berjalan. “Ah awaas!!” Lia berteriak. “tiit tiiiiiiiiiiiiitt!!” Bukk! Anak kecil itu terjatuh setelah sebelumnya tertabrak oleh sebuah sepeda motor. Pagi itu, ia menjadi korban tabrak lari. Degg.. Lia terasa tersentil hatinya melihat kejadian itu. Teringat peristiwa satu pekan yang lalu saat ia terburu-buru berangkat kuliah. D? Javu menelanjangi ingatannya. Seketika hatinya terasa sangat ciut. Bagaimana dirinya bisa setega itu. Hampir saja menjadi seorang membunuh dan meninggalkan korbannya begitu saja. Ia terenyak atas apa yang dilihatnya. Ia menyesal. Perasaannya makin tersayat ketika melihat ibu sang anak itu menangis, menangis sejadi-jadinya. Luapan kasih sayang terasa begitu kental terselip di antara setiap tangis dan setiap tetes air mata yang dikeluarkannya. Ibu….. Benaknya tertuju pada sebuah lukisan wajah, wajah seseorang yang melahirkannya ke dunia. Betapa ia ingin melihat ibunya saat itu. Ibu, ibu dan ibu. Kuat sekali. Ia sangat ingin menemui ibunya. Ingin memeluk, mengelap setiap peluhnya, mengusap setiap air matanya, mengatakan bagaimana ia sangat kesepian di rumah setiap harinya, mengatakan betapa ia menyesal pernah berkata bahwa ia membencinya. Sungguh.

Ia mencoba lebih mendekat untuk melihat anak itu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat, cahaya. Bukan, itu bukan sinar matahari. Itu lebih jelas dan terang. Sinar itu menyelubungi tubuh anak kecil itu yang sedang terlentang di samping ibunya. Ia melihat ada sosok lain. Sosok si kecil. Apa itu…?. Tapi, kenapa….?. Sosok itu berdiri di samping anak perempuan yang bersimbah darah itu. Namun sosok itu sangat bersih, namun sosok itu begitu tenang, namun sosok itu begitu mirip dengan si kecil. Itu… Anak itu…Kenapa ibunya tidak kaget? Kenapa anak kecil itu menjadi dua? Butuh waktu beberapa saat untuk menggabungkan penglihatan dengan rasionalnya. Itu.. Arwah.. Mengapa hanya aku yang melihatnya? Mengapa? Apakah aku juga sudah…. Jadi aku tidak terselamatkan? Perasaan janggal menjalari sekucur tubuhnya. Tiba-tiba anak itu melihat ke arahnya, ia tersenyum. Lia hanya terpaku di sana. Anak kecil itu berlari ke arahnya. Memegang tangannya. Mengajaknya, mengajaknya menghilang, bersama-sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s