Cerpen Cinta – Mawar Melati

Matahari pagi mengintip dari peraduan di ujung timur. Sepercik cahaya menyingkap selimut malam. Kegelapan mulai berangsur memudar dikuti lenyapnya bulan. Hanya untuk memberikan kesempatan untuk sang surya. Kesempatan memenuhi hasrat memancarkan sinar kehidupan bagi makhluk Tuhan di bumi. Tak terkecuali mereka yang dianggap kosong tak bernyawa.

Awal hari ini telah dimulai dengan retorika yang sama. Matahari terbit dan berakhir dengan matahari terbenam. Seonggok batu kecil dipingir jalan hanya tersenyum diam. Menertawakan dirinya sendiri yang merasa panas setelah semalam kedinginan tak berselimut. Sebatang kayu kusam tanggal dari dahannya merasakan perbedaan. Dirinya yang dahulu mampu merasakan angin berhembus sekarang terbaring kaku di tengan jalan yang keras. Aspal yang meleleh karena hari semakin beranjak membuatnya tersiksa. Padahal semalam ia masih tidur nyenyak diatas sana dan sekarang semuanya berubah.

Sapaan sang fajar mulai berubah. Suasana hangat yang menyenangkan mula berganti teriakan panas yang memekakkan. Aktifitas hidup mulai bertensi tinggi. Ribuan pasang kaki hilir mudik menjejakkan langkah di bumi yang terselimut beton dan aspal jalanan. Roda-roda menggelinding melindas apapun dan siapun yang menghadang didepannya. Dan angin semilir kecil berkerut ketakutan menghindar gedung-gedung pencakar langit yang berdiri sombong. Bahkan awan pun mencari jalan pulang lain ketika berhadapannya.

Disudut kota kecil, seorang manusia sedang duduk termenung. Menyandarkan bahunya di bangku kayu panjang yang ada di pinggiran taman. Sebuah taman kecil yang tampak hijau. Pepohonan rindang berjajar membentuk baris asimetris mengikuti alur jalan. Jalan berbatu tersebut selebar kurang lebih satu setengah meter. Dan manusia itu masih disana menatap kosong ke rerimbunan semak tidak jauh didepannya.
Bangku tersebut berhadapan terbalik dengan jalan, jadi orang lain hanya melihat punggungnya. Tidak ada yang mendekat. Walaupun disana cukup ramai untuk sebuah taman kecil. Tapi dia seperti terasing. Tak diperhatikan bahkan tak dipandang. Namun, dia tetap disana walau ditemani kesendirian.

***

Kupacu kendaraanku di jalan yang lengang. Hari libur membuat jalanan kehilangan setengah isinya. Semua yang berpeluh penat serasa melonggarkan ikat pinggang dihari ini. Tetapi aku harus tiba disuatu tempat. Bukan tempatnya yang merisaukanku. Namun apa yang terjadi disana yang memberondongku seperti peluru. Suatu yang telah lama aku perkirakan. Meskipun hanya sebatas harapan tak terjadi tapi itulah suratan. Terjadi yang tertuliskan, terlaksana yang terucapkan.
Dia menikah hari ini, itulah bunyi benakku saat ini. Bukan, bukan saat ini tapi semenjak seminggu yang lalu. Lama aku tidak bertemu kabar darinya. Dan kabar ini cukup mengejutkan. Yang kutahu dia tidak tinggal di indonesia. Semenjak meneruskan kuliahnya ke luar negeri hubunganku dengannya telah berakhir lima tahun yang lalu. Dan minggu kemarin secara khusus sebuah undangan menghampiriku, bahwa ia akan menikah.

Kutepikan mobilku, lalu aku keluar. Kulirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 9 dan kira-kira setengah jam lagi aku akan sampai disana. Kutarik napas dalam-dalam, serasa tercekat di tenggorokan. Apa yang harus kukatakan padanya nanti ketika bertemu. Aku tak pedulu siapapun laki-laki yang mendampinginya saat ini. Aku benar-benar tak peduli. Menikah dengan siapapun adalah haknya. Lagipula siapa aku. Sang pencundang yang tega membuang mawar ke tepi jalan ketika sang mawar membutuhkan tetes air untuk menyegarkannya.

Kubuka pintu mobil dan kuambil selembar tisu. Kubasuh keringat yang mengucur dikeningku. Kulepas jas yang kupakai. Udara belum terlalu panas tetapi aku berkeringat. Keringat dingin yang membasuhi relung benakku yang sedang kalut. Ketenangan yang ada sejak aku memutuskan mendatangi tempat itu telah sirna. Telapak tanganku gemetar.
Ponselku berdering. Kuangkat dan suara yang lama kukenal terdengar jauh disana.
“Vin lagi dimana, aku tungguin gak dateng-dateng, cepetan acaranya udah dimulai”, nada setengah kesal darinya menunjukkan sang pemilik suara berharap aku disisinya. “Ya tunggu, lagi dijalan, setengah jam lagi nyampe sana”, jawabku mencoba menenangkannya
“Iya, tapi lagi dimana sekarang?, kamu gak bohongkan, jangan-jangan gak jadi dateng kesini”, tanyanya lagi
“Itu lagi yang diomongin, dah dibilang dari kemarin kalau aku pasti dateng. Beneran ini lagi dijalan, ini aja mobil aku parkirkan dipinggir, demi mengangkat telpon dari kamu”, cerocosku menjelaskan kondisiku saat ini. Aku tahu cepat atau lambat ia pasti akan meneleponku. Dan seperti apa yang telah kukira. Ia memberondongiku lagi apa yang telah kujelaskan kemarin malam. “Dasar, kaya gak tahu situasi aja”, gerutuku. Bisa saja kubalik arah dan kubatalkan perjalanan kali ini. Tapi keburu dia telah menelepon dan aku mengaku setengan jam lagi tiba disana, jadi seperti tidak ada alasan lain kecuali mereka yang akan kutemui menganggapku masih seperti dulu. Sang pencundang yang hanya bisa kabur.
“Oke aku kan sabar menunggu, hehe”, katanya riang dan tersirat ejekan darinya. Kembali kupandangi jalan yang sesekali dilewati kendaraan. Tidak banyak tapi cukup untuk menjabarkan kondisi hari ini yaitu hari libur. Kutinggalkan mobilku dan kusebrangi jalan. Kulihat ada rerimbunan semak dibagian berlawanan pohon besar. Kudekati perlahan. Kupandangi apa yang tumbuh disana. Tidak ada yang istimewa kecuali satu hal.

***

Kugenggam tangannya. Terasa dingin. Kami bertatapan mata. Sepercik cahaya kecil dari bola hitan matanya kutangkap sebagai tanda bermakna. Kucoba mengenalinya lagi. Seperti yang pernah kulakukan padanya setiap aku dan dia bertemu. Selalu merasa baru ketika bertemu. Selalu ada yang berubah dan kami pun saling mengetahui.

Kuliat dia sedikit tertunduk. Aku pun mengalihkan pandangan. Mataku menyapu semua yang ada disekeliling. Seorang anak kecil bersama ibunya sedang bermain bola. Sepasang remaja yang berjalan bergandengan tangan. Seorang kakek dengan pakaian senam berjalan cepat. Sekelompok pemuda duduk melingkar sambil mendengar seseorang dari mereka berbicara. Dua orang mahasiswi, tampak dari jaket almamater yang dipakainya, berdiri di tikungan jalan untuk memberikan selebaran kepada siapa saja yang lewat.
“Kemana saja kau salama ini”, suaranya menyadarkanku dan perhatianku kembali teralih padanya,
Aku hanya beristirahat sejenak, seperti yang aku janjikan kepadamu, kataku. Kubiarkan jeda hening diantara kami yang tersaput keramaian dunia luar. Ia tercekat hendak bersuara namun sulit untuk berkata-kata. Kembali kualihkan pandangan. Tak mampu zku menatapnya saat ini. Rona wajahnya menyiratkan bahwa ia ingin membuktikan sesuatu kepadaku.
“Lebih baik semua berakhir saat ini. Daripada diteruskan dan kau terus membuatku tersiksa”, kata-katanya kembali membuyarkan lamunanku. Kutahu itu yang akan keluar dari mulutnya. Kulepas genggaman tanganku.
Otakku langsung merespon. Lalu aku berkata, “kalau itu yang kau pinta, aku tak berani menolaknya, banyak kesalahan yang kuperbuat kepadamu. Aku mengakui kalau hubungan ini tidak seperti dulu lagi. Jadi biarkan aku menjauh darimu. Merenungi apa yang telah kulakukan. Meratapi setiap kesalahan yang terjadi”. Biarkan dia memilih. Karena aku memang tidak mampu lagi mempertahankannya. Semua telah berubah dan semua telah berakhir.
Kuambil sebuah kotak kecil dari dalam tasku. Kuserahkan padanya. “Ini sebagai tanda permintaan maafku. Kau boleh membukanya setelah kau telah tiba di Amerika. Jangan tanya apa isinya saat ini. Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang ijinkan aku pergi dari hadapanmu. Diriku tak pantas lagi ada disampingmu. Semoga kau menemukan kebahagian lain yang lebih baik dari sekarang. Terimakasih telah mengijinkanku mengisi hatimu”.
Aku beranjak dan pergi meninggalkannya. Kutinggalkan pandangan sayu dari matanya. Kutahu dia menahan air mata. Akan kubiarkan dia menangis. Aku tidak lagi menjadi orang yang memberikan tempat untuk bersandar ketika dia berduka. Aku tak lagi memberinya senyum ketika dia berteriak bahagia. Dan aku tak lagi memberinya genggaman ketika dirinya ragu dan cemas. Kututup pintu hatinya kepadaku meski serpihan kecil memaksa masuk. Tidak untuk saat ini, dan tidak untuk kemudian.

***

Kuraih tanganku untuk memetiknya. “Aduh”, sebuah duri kecil menancap ditanganku ketika berhasil mengambilnya. Apa yang kulakukan? Biarlah terlambat asal datang. Daripada tidak sama sekali. Kuletakkan setangkai mawar yang tadi kupetik disakuku. Aku kembali menyebrang jalan dan masuk ke mobil.

Jiwaku terasa kembali penuh. Dan semangat baru hinggap menyelimutiku saat ini. Perjalanan kulanjutkan kembali. Waktu setengah jam yang kujanjikan, kulalui setengahnya. Kupacu mobilku secepat yang aku bisa. Aku seperti pembalap yang mengejar tropi kemenangan. Kusalip mobil didepanku. Dua mobil sekaligus. Aku sadar ini berbahaya tapi pikiran baik seperti menepis hal buruk. Dan kumasuki jalanan kecil yang hanya muat satu mobil. Kuperlambat laju mobilku.
Di jujung jalan tampak villa besar bergaya modern berdiri gagah. Jalanan menuju villa tersebut dihiasi pernak-pernik khas pernikahan. Sebuah mobil lain ada didepanku. Seseorang mendekati mobilku dan memberinya aba-aba agar aku mengikutinya berbelok ke kiri. Ia memanduku memarkirkan mobil.

Aku keluar dari mobil. Kupandangi sekeliling berharap ada orang yang kukenal. “Apa aku sendiri yang terlambat?”, kataku lirih. Pasti semua orang telah didalam, baiknya kutanya petugas parkir apakah pesta telah dimulai. Sebenarnya aku sengaja menghindari acara inti yaitu pengucapan sumpah suci kedua insan manusia untuk terikat dalam satu tali perkawinan. Aku hanya ingin tiba ketika kondisinya menyenangkan. Aku tidak ingin dia melihat aku, ketika dia memilih orang lain untuk mendampinginya.

Kulangkahkan kaki menuju ruangan besar ditengah bangunan. Kulewati jalan setapak kecil dan aku tiba dipintu ruangan tersebut. Orang-orang hilir mudik berlalu lalang melewatiku. Sesekali dari mereka menatapku tajam. Pandangan tersirat yang berisi ribuan makna. Tak kupedulikan apa yang mereka lakukan. Aku ke menuju meja tamu. Kulihat daftar nama-nama tamu yang diundang. Kutemukan namaku tercetak disana. “Aku memang diundang”, seruku dalam hatiku, “apa yang kau katakan, jelas kau diundang, tidak semudah itu dia melupakanku”, batinku kembali berucap.
Kujejakkan kaki diruangan itu. Seseorang menghampiriku. “Hai Vin kenapa lama sekali”, dia yang tadi meneleponku. Kupandanginya dan dia tampak berbeda sekali. Aku tersenyum seperti biasa. Dia menarik lenganku. “Ayo cepat”, katanya tidak mempedulikanku yang sedikit keheranan dengan tingkahnya.
Dan sekejap mata aku telah didepannya. Badan lemas tak bertulang ketika menatap matanya. Ia menjulurkan tangannya. “Hei bengong aja”, pundakku ditepuk bukan oleh dia yang ada dihadapanku tapi oleh dia yang menarikku kesini. “Iya Jas, cuma sedikit nervous”, kusunggingkan senyum, dan kuraih tangannya untuk berjabat tangan. “Lama tak bertemu, terima kasih untuk kedatangannya, oh ya kenalkan ini suamiku”, ia berkata sambil meraih tangan laki-laki disisinya. Laki-laki itu juga menjulurkan tangannya dan aku pun membalasnya.
“Terimakasih karena bersedia datang di pernikahan kami. Aku dan Rosa sangat senang. Lembaran baru telah kami buka dan kami akan menulisnya dengan indah untuk kupersembahkan pada anak cucu. Semoga kau mendapatkan kebahagian karena hadir dalam acara kami. Dan semoga seseorang terbaik memberimu kebahagian itu” katanya seolah dia mengetahui apa yang terjadi di masa lalu
“Justru sebaliknya aku yang beterima kasih kepadamu karena diundang. Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia. Limpahan anugerah Tuhan untuk kalian dalam doaku. Sekali lagi selamat”, segera ku menjauh.
“Jasmin, kamu mau bikin aku malu”, kesalku karena kejadian barusan. Untungnya aku bisa mengontrol diri. Beberapa orang tamu yang mengenalku mendekat. Kami bercakap-cakap berbincang tentang kabar tak kecuali tentang Rosa dan suaminya. Sebagian dari mereka adalah temanku yang tahu hubunganku dengan Rosa dimasa lalu. Tapi mereka sepertinya mengerti situasi sekarang dan tidak memperpanjang pembicaraan.

****

Bunga putih itu jatuh tertiup angin. Aku beranjak dari bangku. Mendekati sekuntum bunga yang terlentang ditanah. Angin tidak merusak bentuknya. Bunga itu seperti tersenyum. Kutahu ini adalah takdirnya untuk jatuh tertiup angin. Dan takdirnya pula untuk kupungut sebelum terinjak oleh orang lain. Kumasukkan sekuntum melati putih itu ke sakuku.
Aku berdiri dan kembali duduk dibangku. Kulirik jam tangan. Sudah setengah jam aku disini. Matahari mulai menyengat. Limpahan embun di dedaunan telah menguap. Kehempaskan punggungku disandaran bangku. Tidak seramai dulu dan tidak sehijau dulu. Kondisi taman ini telah berubah. Deretan gedung tinggi mengepungnya. Sebagian taman telah beralih fungsi karena pelebaran jalan.
Namun rerimbunan semak dan pohon disana tetap seperti apa adanya. Disana kupandangi setangkai bunga yang indah. Dan disana pula kudapatkan perasaan baru dari sekuntum yang lain. Kurogoh sakuku. Kupermainkan bunga melati yang tadi kuambil.
“Oi bengong aja”, seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kebelakang. Kulihat dia yang sering menemaniku, berdiri tersenyum lebar menatap kekagetanku. “Jadi pergi, maaf lama menunggu”, serunya bersemangat.
Aku berdiri dan berputar menghampirinya. Kuraih tangannya. Aku tersenyum. Dia kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya. Namun secepat kilat kuselipkan sesuatu diantara genggamanku dengannya. Kusadari dia tak mengerti maksudku. Lalu kudekatkan wajahku ketelinganya. Kubisikkan sesuatu untuknya. Dia terperangah tak percaya.
Jika tak bisa memetik mawar, ijinkan aku untuk merangkai melati,

*TAMAT*


Cerpen Karangan: Dwi Surya Ariyadi
Facebook: D Surya Ariyadi


 

Advertisements