Cerpen Cinta – Ketika Semua Berlalu

Pagi yang cerah. Sinar mentari yang berkilauan, hangat. Seperti biasa setiap akan berangkat sekolah, aku selalu memanggil adik sepupuku, Sita, yang rumahnya hanya bersebelahan denganku. Kami selalu berangkat bersama. Jam dinding sudah menujukkan pukul 7 pagi, tapi Sita tak kunjung menampakkan diri. Aku pun bergegas menjemputnya. Aku tak mau terlambat olehnya. Tapi begitu aku keluar, seketika ia muncul dari tembok di dekat pohon cemara. Di sana ada jalan rahasia. Sambil cengar-cengir ia menghampiriku. Tapi aneh, salah satu tangannya ada di belakang badannya. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku memandangnya penuh penasaran. Perlahan-lahan ia memperlihatkannya kepadaku. Setangkai bunga mawar merah muda yang mekar sempurna. Daun-daun memenuhi tiap lekukan tangkainya. Ada satu daun yang telah di makan ulat. Bunga itu indah.
“Kak Dinda suka bunga, tidak?” tanya Sita padaku.
“Sejujurnya tidak, tapi kalau seandainya bunga itu untuk aku, aku bisa berubah pikiran..”
“Awalnya memang untuk kakak, tapi…”
“Tapi apa?” tanyaku.
“Bunga ini untuk kakak, tapi nanti berikan kepada orang yang kakak sayang, pasti ia suka..” katanya sambil tersenyum. Di perjalanan kami hanya membicarakan bunga itu.

Gerbang sekolah mulai tampak. Sudah banyak murid yang masuk ke sana. Ada juga yang masih di belakang kami. Sita menghentikan langkahnya.
“Kak Dinda tidak boleh lupa ya.” Ia mengingatkanku sambil meletakkan bunga itu di tanganku.
“Aku tak tau siapa yang ku sayang..”
“Bunga itu tau kak,” kami berpisah di depan ruang kelasku.
“Bocah itu romantis, hmm..” aku masuk ke dalam. Kelas sudah ramai. Aku berjalan menuju tempat dudukku. Ketika melewati bangku Seno, langkahku terhenti. Ku lihat bangkunya kosong. Apa dia belum datang? Tapi biasanya dia lebih dulu dariku.
“Hayoo… ngapain bengong di sini?” Ivan menepuk pundakku dari belakang. Bikin terkejut saja. Aku kira itu Seno.
“Ahh.. ga ngapa-ngapain kok Van.”
“Kok wajahmu lesu gitu? Ada masalah ya? Cerita dong.” pinta Ivan.
“Aku…”
“Dinda lagi bingung soalnya Seno ga masuk.” sela Yuni. Nampaknya dari tadi ia mengawasi gerak-gerikku. Gawat.
“Eh.. enggak kok, jangan ngawur Yun..” aku berusaha tertawa untuk menahan grogi. Takutnya nanti mereka curiga.
“Ya Tuhan, tolong aku..” pintaku dalam hati.
“Cie.. cie.. ga usah bohong Din. Kita tahu kok kalau Seno suka sama kamu dan kamu juga punya perasaan yang sama. Ga usah malu-malu gitu..” mereka berdua menertawaiku. Hampir membuatku salah tingkah. Tapi aku harus tetap tenang.

Hingga bel tanda masuk berbunyi. Kelas kembali tenang. Terdengar suara sepatu ibu Lita, yang semakin keras, semakin dekat. Ia memasuki ruangan sambil membawa kertas hasil ulangan bahasa Inggris minggu lalu. Ia menyuruh Ivan membagikannya.
“Anak-anak, itu adalah hasil ulangan kalian. Ibu lihat masih ada beberapa anak yang mendapat nilai kurang, nah untuk itu, kalian harus rajin-rajin belajar ya sekarang. Besok adalah ulangan terakhir, ibu mau kalian semua belajar lebih giat lagi.” kata ibu Lita.
Beberapa dari temanku ada yang nampak kecewa, mungkin nilainya turun. Perasaan cemas dan takut menghampiriku. Aku takut kalau nilaiku juga demikian. Ivan menghampiriku sambil memberiku 2 lembar kertas. 1 atas namaku dan satu lagi atas nama Seno. Ia hanya cengar-cengir.
“Nanti tolong berikan itu kepada Seno, ya Din..” ia cepat-cepat kembali ke bangkunya agar aku tidak mengembalikan kertas itu. Dasar Ivan.

Tok! Tok! Tok!
“Maaf bu, saya terlambat.” Seisi kelas tiba-tiba senyap. Semua temanku memandangi Seno.
“Ada apa Sen? Kamu terlihat ngos-ngosan” tanya Bu Lita.
“Tadi motor saya mogok bu, lalu tiba-tiba saya di kejar anjing.”
“Ya sudah, silahkan duduk.”
“Terima kasih bu.”
Aku membiarkannya duduk dulu. Setelah ia sedikit tenang, ku berikan hasil ulangannya.
“Sen, ini hasil ulanganmu.” Ia menerimanya sambil tersenyum kepadaku.
“Makasi ya Din.”
Teman-temanku yang lain senyum-senyum memandangku. Aku tau mereka sedang memikirkan hal yang tidak-tidak antara aku dan Seno. Tapi, ya sudahlah.

Aku lega setelah melihat hasilnya. Nilai sempurna itu ku dapat dari kerja kerasku selama satu hari penuh. Seno juga mendapatkan nilai sama denganku. Ia memang pintar dalam bahasa Inggris, semua mata pelajaran ia kuasai dengan baik, tak heran banyak yang sering bertanya padanya saat ulangan. Kadang-kadang ia pelit, kadang-kadang juga tidak. Tak hanya pintar, baik, dan ramah, Seno juga mempunyai wajah yang tampan, hampir semua gadis-gadis di kelas kami menyukainya. Ia memiliki 2 sahabat yang selalu ikut kemanapun ia pergi. Ivan dan Yuni. Mereka berdua adalah sahabat Seno sejak kecil. Jadi mereka sangat tahu bagaimana Seno. Termasuk isu kalau Seno menaruh hati padaku sejak kami berada dalam satu kelompok belajar.

Saat itu giliran belajar kelompok di rumah Seno. Ivan dan Yuni yang sangat jahil itu sengaja datang agak terlambat. Seno dan aku menunggu mereka di teras belakang. Seno yang memulai pembicaraan. Ia menanyakan tipe cowok yang yang aku suka. Gila.
“Aneh sih kedengarannya, tapi kau harus menjawabnya. Ini penting.”
“Aku belum berminat pacaran..”
“Tapi nanti kau kan pasti pacaran”
“Ia… tapi kau ini kenapa menanyakan hal itu?” aku balik bertanya.
“Bisakah kau suka padaku?” sungguh pertanyaan di luar dugaanku. Bagaimana bisa Seno menyukaiku. Ia benar-benar aneh.
“Kalau bisa kenapa? Kalau tidak kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya. Kalau itu bisa kulakukan, akan kulakukan demi kau..”
“Berhentilah bercanda Seno…” sejak saat itu Seno bukannya menjauhiku malah semakin mendekatiku. Bahkan sudah berani terang-terangan. Ampun. Setiap hari teman-temanku selalu menggodaku. Tak terkecuali Ivan dan Yuni. Mereka semua begitu kompak mengagung-agungkan Seno di depanku. Aku di sekak mat. Entah bagaimana Seno meracuni pikiran teman-temanku. Isu kalau ia menyukaiku semakin hari semakin nyata.

Besok adalah ulangan bahasa Inggris. Ini adalah ulangan terakhir sebelum ulangan umum. Ibu Lita menyuruh kami untuk belajar lebih giat lagi. Sore harinya Seno datang ke rumahku. Saat itu ibu sedang merapikan kebun di teras depan.
“Din, ada temanmu datang..” ibu memanggilku.
“Mengapa Taro tidak menggong-gong?” pikirku. Saat aku keluar, kulihat Seno sedang bermain-main dengan Taro.
“Nah, itu majikanmu datang, ayo cepat cari dia..” kata Seno sambil mengelus-elus pundak Taro. Tapi anehnya Taro tidak mendekatiku, malah semakin lengket dengan Seno.
“Din, ajak temanmu ke dalam..” pinta ibu.
“Ya udah, masuk ajan Sen..”
“Dengan senang hati cantik..”
“Namaku Dinda.”
“Iya dehh.. ngomong-ngomong ibumu baik juga ya, ramah lagi.. tapi kamu kok ga kayak ibumu?”
“Aku ramah kok, kamu sih belum kenal aku..”
“Naah.. maka dari itu kita perlu PDKT..” ya ampun, aku terjebak.
“Hmm.. diem itu artinya mau..” sambungnya.
“Eh.. kata siapa?! Aku ga mau, titik..!”
“Aku tau dalam hatimu, kamu mau, cuma kamu malu ngakunya.. hayoo” desak Seno.
Aku semakin terpojok. Aku ingin mengeluarkan unek-unekku di hadapannya. Tanpa sengaja aku keceplosan.
“Kalo iya kenapa?!” uups keceplosan!
“Akhirnya ngaku juga.. seneng lho aku dengernya..”
“Trus maumu apa?”
“Aku cuma pingin kamu juga suka sama kau, gitu lho Din..”
“Aku kan udah mau PDKT ma kamu. Apa itu belum cukup?”
“Cukup, tapi…”
“Okelah.. aku kasi kamu syarat aja..”
“Aku akan berusaha memenuhinya.”
“Oke. Kamu harus jemput adikku, Sita, lusa. Bagaimana?”
“Cuma gitu aja? Okelah..”
“Ya, kalau kamu berhasil, aku akan mempertimbangkannya dan sebaliknya.”
“Ngobrolin apa sih? Seru sekali kelihatannya.” Ibu datang sambil membawa minuman dan camilan. Tak terasa dari tadi aku dan Seno memperbincangkan isu itu. Akhirnya aku membuka hatiku untuk dia. Lega sekali. Tapi apa dia sanggup memenuhi syaratku, Sita bukan orang yang mudah di dekati. Aku jadi cemas.
“Kenapa Din, kok bengong? Mikirin aku ya?”
“Iya nih, membayangkan besok..” aku mulai jujur.
“Aduh.. aku jadi GR deh…”
“Dasar..! ini udah malem Sen.. berani pulang sendiri?” ledekku.
“Ya udah aku pulang aja ya, inget belajar buat besok.” Katanya sambil tersenyum.
“Iya.. iya..”
“Aku pamit pulang sama ibumu, titip salam ya..”
“Oke.. aku anter sampai depan aja..”

Keesokkan harinya, seperti biasa aku berangkat dengan Sita. Di perjalanan aku menuruhnya untuk menungguku pulang sekolah besok.
“Jangan pergi kemana-mana atau pulang dengan orang lain selain kakak ya..” pintaku.
“Kenapa kakak membicarakannya sekarang?”
“Untuk mengantisipasi kalau besok kakak lupa..”
“Oke dehh..” Sita yang anaknya polos, tentu saja menuruti kata-kataku. Sampai di depan ruang kelasku, kami berpisah. Aku bergegas masuk kelas. Kulihat Seno, Ivan, dan Yuni sedang berbincang-bincang. Dan diam ketika aku sudah dekat dengan mereka. Lagi-lagi aku harus di goda.
“Hmm.. ada yang lagi PDKT nih critanya..” kata Ivan. Teman-temanku yang lain jelas melirik ke arahku dan Seno.
“Kalau iya, kenapa?! Bukankah itu yang kalian mau?” aku mulai marah.
“Aduh kayaknya ada yang lagi marah nih..” kata Yuni.
“Eh.. udah dong ngeledeknya..” pinta Seno. Seketika teman-temanku yang lain kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Bel pun berbunyi. Ibu Lita pun masuk ke dalam kelas dan segera membagikan soal-soal ulangan.
“Ibu minta kalian jujur. Waktu kalian 45 menit.”
“Baik bu…” kata kami serempak.
Kami mulai mengerjakan soal demi soal. Tak ada yang berani menyontek. Terbukti karena Seno duduk manis di bangkunya. Biasanya kepalanya sibuk bergerak karena banyak yang bertanya kepadanya. Dan tak terasa 45 menit telah usai. Ivan bangun dari bangkunya untuk mengambil lembar jawaban.
“Ibu senang tidak ada dari kalian yang menyontek. Semoga nilai ulangan kalian cukup memuaskan. Besok ibu bagikan hasilnya.” Kata Ibu Lita.

Bel istirahat pun berbunyi. Semuanya berhamburan keluar. Tapi aku tetap di dalam. Cemas menanti hasil ulangan tadi.
“Bagus tidak ya?” pikirku. Aku memutuskan untuk menemui Sita agar cemasku hilang. Ketika hampir sampai di depan ruang kelasnya, aku dikejutkan oleh Dicky. Mantan pacarku waktu kelas 2 dulu.
“Hai Din.. tumben ketemu kamu lagi..” sapanya. Ia masih ramah seperti dulu.
“Hai Dic.. apa kabar? Kok tidak pernah main-main ke rumahku lagi?”
“Baik-baik aja, kamu? Aku sudah mulai sibuk Din bantu kakakku di bengkel.”
“Baik juga.. Oh iya ya.. sekarang bengkelmu sering ramai.”
“Iya Din.. Oh ya, kamu mau kemana? Tumben lewat sini.”
“Kebetulan lewat aja kok.” Bel masuk pun kembali berbunyi.
“Padahal aku masih ingin ngobrol lebih lama lagi denganmu.”
“Makannya main dong ke rumahku. Ya udah aku masuk kelas dulu ya, bye Dicky.”
Kelasku sudah ramai, maklum jam pelajaran terakhir.

Ketika akan menuju bangku, Yuni mencegatku. Wajahnya serius sekali.
“Kamu masih berhubungan sama Dicky?”
“Masih, dia kan temanku.” Lalu aku meninggalkannya.
Aku bertemu lagi dengan Dicky saat pulang sekolah. Ia menawariku pulang berdua. Aku mengiyakannya karena Sita sudah pulang duluan.
“Makasi ya. Tidak mampir dulu Dic? Sekalian makan siang.”
“Ga usah Din, aku pulang dulu ya.”
“Oke.. hati-hati ya.”
Sore harinya, aku duduk di teras depan sambil bermain-main dengan Taro. Tiba-tiba muncul Dicky. Taro menghampirinya dan sama seperti saat bersama Seno. Ia bermanja-manja dengan Dicky. Anjing yang aneh.
“Aku kebetulan lewat, jadi sekalian mampir.”
“Oh, aku kira kau sengaja datang.” kataku sambil tertawa kecil.
“Ibumu di mana? Ini ada titipan dari ibukku.”
“Kelihatannya enak. Boleh aku coba?”
“Ehh.. itu buat arisan.”
“Oh begitu..”
“Aku ga lama ya Din, cuma nganter kue aja..”
“Ya udah deh..” padahal aku ingin cerita-cerita sama dia. Aku membawa kue itu ke dalam. Ku letakkan di atas meja lalu naik ke atas.

Malam harinya, Dicky menelponku. Kami bercerita banyak hal. Sampai lupa kalau sudah hampir jam 9. Dicky mengakhiri ceritanya dan menyuruhku untuk segera tidur.
“Tumben kamu perhatian sama aku, Dic. Met malem juga ya. Sampai ketemu di sekolah, bye.”
Tutt.. tutt.. tutt.
Paginya aku bangun kesiangan. Ibu bilang Sita sudah berangkat duluan.
“Hari ini aku berangkat sekolah sendiri.” Gumamku. Tapi tidak. Lagi-lagi aku bertemu dengan Dicky.
“Ayo Din, brangkat sama aku, nanti kamu terlambat.” Aku naik ke motornya. 15 menit kemudian kami sampai. Untung tidak terlambat.
“Makasi ya Dic.”
“Sama-sama. Kamu masuk aja duluan, aku mau parkir motor dulu.”

Aku segera masuk kelas. Tapi aku tidak melihat Seno. Ivan dan Yuni juga tidak menyapaku. Kelas tidak ramai seperti biasanya. Bel masuk pun berbunyi. Mulai terdengar suara sepatu Bu Lita. Tidak ada suara lain sampai Bu Lita masuk kelas.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Bu Lita.
“Selamat pagi bu.” Kemudian ibu Lita mengabsen kami. Hanya Seno yang tidak hadir.
“Ada apa dengan Seno?” tanya ibu Lita.
“Sakit bu, tadi ibunya datang ke sini” jawab Ivan.
“Oh, begitu.”
Ada apa denganku? Kenapa aku sedih mendengarnya? Tiba-tiba bel berbunyi disertai pengumuman dari kepala sekolah. Guru-guru akan menghadiri rapat. Murid-murid di pulangkan lebih awal. Di tengah kerumunan murid-murid, aku lihat Ivan berjalan ke arahku. Semakin dekat. Ia menarik tasku dari belakang.
“Din, mau ikut aku ke rumah Seno?” bisiknya. Merinding. Aku diam. Kalau ku jawab, pasti ia akan meledekku. Tanpa pikir panjang, Ivan menarik tanganku. Sampai di tempat parkir, ia berhenti.
“Ada apa Van?” tanyaku.
“Adikmu pulang sama siapa?” ia balik bertanya.
“Ah.. iya.. pasti ia sedang menungguku..” segera aku menuju gerbang sekolah. Tapi di sana sudah sepi. Kutanyai beberapa teman Sita. Kata mereka Sita di jemput kakak lelakinya. “Seno” ucapku dalam hati.
Sampai di rumah, kulihat Sita menungguku sambil menonton tv di ruang tamu. Di meja terdapat banyak camilan.
“Kak, maaf tadi aku…”
“Dengan siapa kau pulang?” aku memotong pembicaraannya. Ia hanya menunduk. Tak bicara sepatah katapun. Air matanya pun mulai menetes. Aku meninggalkannya sendiri. Aku masuk ke dalam kamar dan duduk dekat jendela. Senang sekali hatiku.
Tok! tok! tok!
“Kak, ini aku…”
“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.”
Wajahnya masih sedih, matanya sembab. Ia memandangku heran karena aku menertawainya.
“Aku senang..” kataku sambil memeluknya erat.
“Kakak tak marah?” tanyanya.
“Untuk apa? Justru aku senang kau bisa dekat dengannya. Dia sudah memenuhi syaratku…”
“Syarat? Maksud kakak?”
Tak kujawab pertanyaannya itu. Aku rasa ia pasti mengerti. Syarat itu ternyata bisa Seno penuhi. Aku kagum padanya.
“Satu hal yang harus selalu kau ingat, kau adalah adik yang sangat aku sayangi” itulah jawaban dari pertanyaan Sita. Aku ingin Seno menyayangi Sita seperti aku.

Sore harinya Seno menemuiku. Wajahnya bersinar. Begitu juga denganku.
“Kau hebat!” pujiku. “Bagaimana kau melakukannya?”
“Awalnya Sita tidak mau ikut denganku. Tapi semua berubah setelah aku bicara sedikit dengannya.”
“Bicara apa?” tanyaku penasaran.
“Hmm.. kemarin kakakmu memberiku bunga mawar.. itu saja. Lalu bagaimana jawabanmu?”
“Tentu saja, dengan senang hati.” Jawabku sembari tersenyum. Kenangan manis di senja hari.

Beberapa bulan kemudian…
“Sen, kamu sibuk sore ini? Ada yang ingin aku bicarakan.” Kataku saat berdua dengan Seno di sebuah coffee shop sepulang sekolah. Ia menghembuskan nafas panjang. “Ada apa..?” tanyaku. Di tarik lagi dan di hembuskan lagi nafasnya.
“Kamu mau kita break atau putus?”
Aku terkejut, tak percaya, tak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Dengan mudah ia dapat membaca pikiranku. “Aku…” tak dapat berkata apa-apa lagi. Diam.
“Aku masih mencoba selama ini.” Ia menatapku, memegang tanganku. “Maaf, bukan maksudku menjadikanmu pelarian atau pelampiasanku.” Aku masih diam. Semua telah terkuak sekarang.
“Tapi yang aku rasakan, seperti kamu telah menginginkanku sejak awal, sejak kamu masih bersama dia.” Giliran Seno yang diam sekarang. “Mungkin ada beberapa bagian yang saling kita salah artikan.”
Ya. Saat ia bilang masih mencoba, tanpa di sadari aku pun juga belajar, hingga saat ini, saat semua telah terkuak. Saat aku tau cintanya sepenuhnya bukan untukku, dan ia gagal untuk pelajaran ini.
“Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Yang aku tau, semua yang kulakukan hanya semakin membuatmu terluka.”
“Lebih baik kita akhiri semuanya baik-baik, sekarang.”
“Aku akan pikirkan lagi, boleh aku minta waktu?”
“Kamu mau mengulur waktu?”
“Tolong, beri aku waktu sampai lusa, dan aku janji, semuanya akan baik-baik saja.”
“Kamu berani jamin?”
“Ya!” jawabnya mantap. Ya, Seno, aku percaya, kamu tak akan mengecewakanku lagi, dalam hatiku.
“See you the day after tommorow.” Kini aku yakin melangkahkan kaki. Dan aku tak sabar menunggu datangnya lusa.

“Aku pulang…”
“Cie yang habis ngedate sama pacar.”
“Hih. Apaan sih anak kecil ni?!”
“Sudah-sudah. Dinda sini duduk, ada yang mau kita bicarain sama kamu.”
“Cie yang bakal married..”
“Anak kecil diem aja deh!”
Mama membuka pembicaraan dengan diawali pertanyaan serius, kapan kalian menikah? Hmm.. langsung menikah atau tunangan dulu? Mama, andai mama tau.
“Lho, di tanya kok malah diem?”
“Kita belum mikirin soal married, Ma, kita masih nyaman pacaran.”
“Ya… mama, papa, serahin ke kalian aja..”
“Iya, Ma, makasi pengertiannya..”
Dan setelah pertanyaan itu telontar dari bibir mama, ketakutan menghampiriku lagi. Aku ingin datangnya lusa bisa di undur! Too late, it’s impossible. Ukh!
“Dek, kita tidur aja yuk..?”
“Tumben kak, ada story terbaru?”
“Ya.. nih. Buruan ke atas!”
Adik dan kakak jalan barengan ke lantai 2. Aku sudah agak jarang memperhatikan little devil itu, semenjak kenal Seno. Ironisnya, sekarang, saat hubungan kami di ambang jurang, aku merasa semakin dekat dengan Sita, ini bukan dengan sengaja.

“Kak, kak Seno telpon tuh..” Sita melihat handphoneku berdering. Ia mengambilnya, tapi dengan cepat suara ringtonenya berhenti. “Yah.. kok di matiin? Niat gak sih?”
“Kenapa dik?”
“Kak Seno tadi telepon, belum di angkat eh.. di matiin!”
“Ooh, gpp.. ntar kakak message dia, ok! Yuk tidur, udah malem..”
“Hmm.. ok..”
Aku masih berharap, lusa datangnya nanti, bukan lusa! Ooh, God.. apa yang harus aku lakukan. Seno.. apa sih yang kamu pikirin sekarang? Apa kamu berharap yang sama seperti aku? Aku harap, ya!

Dinda, thank you so much, you have made my life more colorful. I’m sorry, I can’t give you anything… Happy Birthday, I love you..
Birthday card ini bikin aku inget sama kenangan kita. Lusa mungkin akan ada kenangan baru. Dan jika waktunya nanti, aku lebih memilih tetap di sini.
“Tolong ya, Mbak, benda ini sampai tepat waktu..” kuserahkan sekotak rainbow cake kesukaan Seno lengkap dengan Aniversary cardnya.
“Wah, Mbak, ucapannya puitis sekali, sangat menyentuh. Semoga langgeng sampai kakek-nenek ya, Mbak..” pegawai antar di toko kue itu setelah bicara lalu tersenyum. “Kalau saya sudah sampai di tujuan, pokok e pasti saya PING!! Mbak!” sambil tertawa.
“Yoo wis, Mas, makasih ya.” Singkat. Beberapa saat saja pegawai itu sudah lenyap dari pandanganku. Rumah Seno memang tak jauh dari toko kue ini. Dan aku harus bergegas pulang. Dan, ada sms masuk, dari pegawai antar itu.
Sip, Mbak. Barangnya sudah sampai, tak ada lecet sedikitpun. Sekarang sudah berpindah tangan. Si doi telah menerimanya. Tugas saya selesai, terima kasih.

“Seno, I always love you,” sebagai sahabat selamanya.
“Baiklah, saya pamit kerja lagi, Mas, jangan lupa di buka kartunya, so sweet isinya banget.”
“Oke, makasi ya..”
Terima kasih, Seno.. telah mewarnai hari-hariku. Warna cerah, gelap, kamu padu-padankan sedemikian rupa.. hingga tak pernah kurasa kontras dalam hidupku. Happy Aniversary, sayang.. Nothing lasts forever, but our love does. One more, I love you..
“Love you too, sayang. Makasi, kamu beri aku hadiah yang kamu tau, selalu aku minta padaNya.”
Meski kita bukan lagi sepasang kekasih, kita tetap sepasang makhluk Tuhan yang masih menjalin suatu hubungan, persahabatan. Dan terciptalah kenangan itu pada akhirnya..


Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi
Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar, hehehe aneh kan?
Salam kenal ya sobat..


Advertisements