Cerpen Persahabatan – Hilangnya Bintang Itu

Berikut ini adalah sebuah cerpen persahabatan yang bisa menjadi bacaan menarik untuk memaknai arti persahabatan sejati dalam kehidupanmu.

Hilangnya Bintang Itu

Pagi yang indah, burung-burung berkicauan. Menyambut hangatnya pagi di pondok suci ini. Semua santriwati menyibukkan dirinya. Entah angin apa yang membawaku semalam. Terbangun dari tidurku, tetesan darah bercucuran dari hidungku. Aku menutupinya dan terdiam. Sedangkan, teman-temanku panik melihat keadaanku. Temanku menyuruhku untuk tetap beristirahat. Tapi, aku menolaknya. Karena, besok ujian akan dilaksanakan. Hari ini adalah hari libur, semua santriwati menyiapkan belajarnya untuk ujian besok. Lain denganku, aku berusaha menghafal pelajaranku. Tapi, keadaan yang semakin memburuk pun membuatku terbaring lemas di kamar. Syifa, adalah nama panggilanku.

“Syifa! Bagaimana keadaanmu?” tanya Tata, sahabatku.
“Kau tak perlu khawatir, aku akan tetap ikut ujian besok!” balasku.

Saat malam tiba. Teman-temanku akan berangkat ke tempat biasa kami belajar. Lalu aku berpikir, “Jika aku tak belajar malam ini, bagaimana dengan ujianku besok? Aku harus belajar malam ini!” gumamku. Lalu aku belajar di masjid tempat kami belajar. Tapi, aku tak melihat Tata. Aku sudah bertanya pada teman kamarnya. Tapi, tidak ada yang melihatnya. Lalu aku melanjutkan belajarku. Saat malam semakin larut. Vira, teman sekamarku mengajakku pulang. Continue reading

Advertisements

Cerpen Persahabatan – Malam yang Indah

Berikut ini adalah sebuah cerpen persahabatan yang bisa menjadi bacaan menarik untuk memaknai arti persahabatan sejati dalam kehidupanmu.

Malam Yang Indah

“Rara bangun!” teriak mama.
“Iya aku sudah bangun,” jawabku. Segera aku menuruni tangga untuk sarapan.
Hai namaku Rara Restiara aku mempunyai sahabat bernama Riri dan Risa mereka adalah sahabat terbaikku.

“Hai Ra ” sapa Risa padaku.
“Pagi Sa,” sapaku padanya.
“Ini undangan ulang tahunku,” ujarnya padaku sambil mengeluarkan undang dari tasnya.
“Makasih Sa,” ujarku menerima undangannya.
“Hayo lagi ngapain kalian nggak ngajak-ngajak?” tanya Riri pada kami.
“Ini undangan ulang tahunku tadi kamu sih kelamaan datang,” ujarnya marah.
“Makasih Sa jangan marah dong senyum,” ujarnya menerima undangan dari Risa.

Ting, ting, ting “Bel udah bunyi tuh yuk kita masuk,” ajakku pada mereka.
“Yuk,” jawab mereka bersamaan. Kami masuk ke dalam kelas ku lihat Risa akhir-akhir ini suka sekali murung, aku menghampirinya untuk menyisir rambut seperti yang ku lakukan saat dia sedang murung. “Sa sini biar aku sisir rambut kamu,” ujarku sambil mengambil sisirnya.
“Jangan Rara aku nggak mau,” bentaknya padaku.
“Baiklah,” jawabku. Tidak seperti biasa dia marah saat aku mau menyisir rambutnya tapi sudahlah nanti saat istirahat aku mau minta maaf padanya.

Ting, ting, “Ri yuk kita ke kantin ajak Risa juga,” ajakku pada Riri.
“Risa yuk kita ke kantin,” ajakku pada Risa.
“Nggak ahh,” bentaknya pada kami.
“Ra kok dari tadi pagi sikap Risa aneh marah-marah terus,” tanya Riri padaku.
“Aku juga nggak tahu,” jawabku padanya. Aku pun mengkhayal tentang Risa kok akhir-akhir ini dia aneh.

2 hari telah berlalu tapi Risa tetap dengan sikapnya itu dan hari, hari pesta ulang tahunnya aku mengajak Riri ke toko kado untuk membeli hadiah untuk Risa.
“Ra bagaimana dengan gelang dan kalung ini?” tanyanya padaku. Continue reading

Cerita Lucu – Tabib Vs Sinshe

Cerita lucu humor berikut ini dapat menjadi bacaan singkat yang lucu untuk menami hari anda yang penat.

Tabib Vs Sinshe

Konon ada sepasang sahabat China dan Arab lagi kebingungan karena usaha mereka bangkrut. Setelah memutar keras otak, mereka sepakat membuka pelayanan kesehatan. Maka si China jadi sinshe dan si Arab menjadi tabib.

Setelah 1 minggu praktek, si tabib tetep sepi pasien, namun si sinshe mulai kebanjiran pasien. Si tabib putar otak untuk melawan si sinshe.

Maka si tabib mengeluarkan jurus dengan memasang pengumuman di depan ruang prakteknya: “Jika Tidak Sembuh Uang Kembali 3x Lipat”

Taktik itu manjur, pasien lalu berdatangan pada si tabib. Giliran si sinshe sewot lalu mencari akal. “Haiyaaa, lumayan kalo owe pulak-pulak sakit dan tidak sembuh dapat uang lha…”

Lalu ia mendatangi si tabib.

Si sinshe: “Haiyaaa, tolong owe. Owe punya sakit mati lasa. Owe tidak bisa lagi lasain lasa setiap makanan yang owe telan, haiyaa…”

Si tabib: “Ana fikir itu gamfang ana sembuhkan.”

Lalu si tabib memanggil asistennya.

Si tabib: “Hasaaannnn, cefat ente bawa ke sini obat nomor 14.”

Secepat mungkin si asisten yang bernama Hasan membawa obat nomor 14 dan oleh si tabib diberikan kepada si sinshe. Dan si sinshe langsung mengunyah sebelum menelan obat nomor 14 tersebut.

Si sinshe: “Haiyaaa, ini bukan obat lhaaa, tapi ni tai ayam.”

Si tabib: “Ente betul. Itu tai ayam. Berarti ente sudah sembuh dan tidak mati rasa lagi.” Si sinshe pulang dengan kesal karena kalah akal. Lalu ia kembali memutar otak berpikir mencari akal untuk mengalahkan si tabib dan sekaligus dapat uang si tabib. Maka kali ni si sinshe kembali berpura-pura sakit lupa yang sangat kronis.

Si sinshe: “Haiyaaaa tabib, owe sakit lupa palah sekali. Owe lupa semua pelistiwa dan memoli owe. Haiyaaa, tolong owe.”

Si tabib: “Gamfang. Ana fasti tolong ente dan ente fasti sembuh. Obat ana mujArab sekali.”

Lalu seperti biasa si tabib memanggil si Hasan sang asisten.

Si tabib: “Hasaaaaan, cefat ente bawa kemari obat nomor 14.”

Si sinshe: “Haiyaaaa, owe tidak mau makan tai ayaaaam lagi”.

Kutipan Kata Kata Mutiara Bijak Cinta Para Tokoh Dan Filsuf Dunia

Setelah memberikan kompilasi kata kata mutiara dan juga kata kata bijak serta kata kata cinta umum dengan anonymous author, berikut ini anda bisa menyimak kata mutiara bijak cinta dari para tokoh dan filsuf dunia ternama yang dapat menjadi inspirasi dan pelita kehidupan.

Kata Mutiara Bijak Cinta Tokoh Dunia

“Saya mencintai kehidupan, tetapi saya tidak takut akan kematian. Betapapun, sebisa mungkin saya lebih suka meninggal paling belakangan.”
Georges Simenon-Pencipta Karakter Detektif Fiksi Inspektur Maigret

Setiap kita tersenyum kepada seseorang, tindakan tersebut merupakan perwujudan dari kasih, anugerah bagi orang itu, dan sesuatu yang sangat indah.”
Bunda Teresa

“Kata-kata yang baik memiliki daya kreatif, kekuatan yang membangun hal-hal mulia, dan energi yang menyiramkan berkat-berkat kepada dunia.”
Lawrence G Lovasik, Motivator dan Konselor Kerohanian Amerika Serikat

“Harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.” Mahatma Gandhi (1869-1948), Pemimpin Besar India

Begitulah cinta, ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…
“Elemen terpenting kita bukan pada otak. Namun, pada apa yang menuntun otak kita–kepribadian, hati, kebaikan, dan ide-ide progresif.” Fyodor Dostoyevsky (1821-1881)

“Harapan adalah tabir alami untuk menyembunyikan ketelanjangan kebenaran.”
Alfred Bernhard Nobel, Penemu-Ilmuwan Swedia

“Kecantikan bukan berada pada raut wajah, dia terpancar bagai serunai sinar dari dalam hati.” Kahlil Gibran (1883-1931), Pujangga

“Cinta dan keajaiban memiliki persamaan besar. Keduanya memperkaya jiwa dan mencerahkan hati.” Nora Roberts, Novelis Cinta AS

“Sekuntum mawar akan menjadi kebunku. Seorang sahabat sejati akan menjadi duniaku.” Leo Buscaglia (1924-1998), Sastrawan AS

“Sekuntum mawar akan menjadi kebunku. Seorang sahabat sejati akan menjadi duniaku.” Leo Buscaglia (1924-1998), Sastrawan AS

“Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima.”
Ivan Panin, Matematikawan Rusia (1855-1942)

“Waktu terkadang terlalu lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi yang takut, terlalu panjang bagi yang gundah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Tapi bagi yang selalu mengasihi, waktu adalah keabadian.” Henry Van Dyke, Pujangga AS

“Belajar bagaimana cara belajar adalah keahlian terpenting dalam hidup.”
Tony Buzan, Penemu Metode Mind Mapping

“Di tiap musibah yang menimpa Anda, ingatlah untuk bercermin
dan bertanya tentang daya apa yang bisa Anda upayakan guna menarik
pelajaran positif dari kejadian itu.” (Epictetus, Filsuf Yunani)

Continue reading